Meningkatkan Kompetensi Guru Melalui Lesson Study

Mengapa Lesson Study Dalam peraturan pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Bab IV pasal 19 ayat 1 dinyatakan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologi siswa. Hal ini mengisyaratkan bahwa dalam pembelajaran seorang guru dituntut untuk dapat memiliki sebuah pendekatan, metode, dan teknik-teknik tertentu yang dapat menciptakan kondisi kelas pada pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, dan menyenangkan. Sehingga pada akhirnya akan diperoleh kondisi kelas yang termotivasi , aktivitas yang tinggi serta hasil belajar yang memuaskan. Lesson Study dapat dijadikan jembatan untuk meniti kearah cita-cita proses pembelajaran yang ideal sebagaimana tercantum dalam Standar Nasional Pendidikan. Lesson study merupakan salah satu bentuk pembinaan guru (in-service) yang dapat dilakukan untuk meningkatkan profesionalisme guru. Lesson study dilakukan di wilayah guru mengajar dengan menggunakan kelas dalam lingkungan nyata, sehingga akan membiasakan guru bekerja secara kolaboratif baik dengan guru bidang studi maupun guru di luar bidang studi, bahkan dengan masyarakat. Lesson Study di pilih sebagai salah satu cara untuk meningkatkan proses pembelajaran, di mana seorang guru mengajak kerja sama guru yang lain. Kerja sama tersebut dimulai dari merancang pembelajaran, melaksanakan dan mengamati proses pembelajaran, serta melakukan diskusi/refleksi terhadap pelajaran yang dilakukan. Catherine Lewis (2004), mengemukakan tentang ciri-ciri esensial dari Lesson Study, yang diperolehnya berdasarkan hasil observasi terhadap beberapa sekolah di Jepang, yaitu: 1. Tujuan bersama untuk jangka panjang. Lesson study didahului adanya kesepakatan dari para guru tentang tujuan bersama yang ingin ditingkatkan dalam kurun waktu jangka panjang dengan cakupan tujuan yang lebih luas, misalnya tentang: pengembangan kemampuan akademik siswa, pengembangan kemampuan individual siswa, pemenuhan kebutuhan belajar siswa, pengembangan pembelajaran yang menyenangkan, mengembangkan kerajinan siswa dalam belajar, dan sebagainya. Materi pelajaran yang penting. Lesson study memfokuskan pada materi atau bahan pelajaran yang dianggap penting dan menjadi titik lemah dalam pembelajaran siswa serta sangat sulit untuk dipelajari siswa. Studi tentang siswa secara cermat. Fokus yang paling utama dari Lesson Study adalah pengembangan dan pembelajaran yang dilakukan siswa, misalnya, apakah siswa menunjukkan minat dan motivasinya dalam belajar, bagaimana siswa bekerja dalam kelompok kecil, bagaimana siswa melakukan tugas-tugas yang diberikan guru, serta hal-hal lainya yang berkaitan dengan aktivitas, partisipasi, serta kondisi dari setiap siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Dengan demikian, pusat perhatian tidak lagi hanya tertuju pada bagaimana cara guru dalam mengajar sebagaimana lazimnya dalam sebuah supervisi kelas yang dilaksanakan oleh kepala sekolah atau pengawas sekolah. Observasi pembelajaran secara langsung. Observasi langsung boleh dikatakan merupakan jantungnya Lesson Study. Untuk menilai kegiatan pengembangan dan pembelajaran yang dilaksanakan siswa tidak cukup dilakukan hanya dengan cara melihat dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (Lesson Plan) atau hanya melihat dari tayangan video, namun juga harus mengamati proses pembelajaran secara langsung. Dengan melakukan pengamatan langsung, data yang diperoleh tentang proses pembelajaran akan jauh lebih akurat dan utuh. Pengertian Lesson Study Lesson Study dimulai di Jepang sekitar tahun 1870-an (Inagaki and Sato, 1996). Lesson Study adalah suatu metode analisis kasus pada praktik pembelajaran, ditujukan untuk membantu pengembangan profesional para guru dan membuka kesempatan bagi mereka untuk saling belajar berdasarkan praktik-praktik nyata di tingkat kelas. Lesson Study dibagi menjadi tiga bagian: Plan (perencanaan), Do (pelaksanaan dan observasi) dan See (refleksi). Pada bagian perencanaan, baik seorang atau sekelompok guru membuat rencana pembelajaran, satu orang guru melaksanakan pembelajaran berdasarkan rencana yang telah dibuat dan teman sejawatnya mengamati pembelajaran tersebut, dan mereka merefleksikan pembelajaran yang diamati bersama-sama. Lesson Study bukanlah suatu strategi atau metode dalam pembelajaran, tetapi merupakan salah satu upaya pembinaan untuk meningkatkan proses pembelajaran yang dilakukan oleh sekelompok guru secara kolaboratif dan berkesinambungan, dalam merencanakan, melaksanakan, mengobservasi dan melaporkan hasil pembelajaran.   Tahap-Tahap Lesson Study Berkenaan dengan tahapan-tahapan dalam Lesson Study ini, dijumpai beberapa pendapat. Menurut Wikipedia (2007) bahwa Lesson Study dilakukan melalui empat tahapan dengan menggunakan konsep Plan-Do-Check-Act (PDCA). Sementara itu, Slamet Mulyana (2007) mengemukakan tiga tahapan dalam Lesson Study, yaitu : (1) Perencanaan (Plan); (2) Pelaksanaan (Do) dan (3) Refleksi (See). Saat ini yang dikembangkan Depdiknas bekerja sama dengan Pelita-JICA adalah yang kedua. Jika digambarkan, tahapan tersebut dapat dilihat seperti berikut ini.     a. Tahapan Perencanaan (Plan) Dalam tahap perencanaan, para guru yang tergabung dalam Lesson Study berkolaborasi untuk menyusun RPP yang mencerminkan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Perencanaan diawali dengan kegiatan menganalisis kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran, mengenai : kompetensi dasar, cara membelajarkan siswa, mensiasati kekurangan fasilitas dan sarana belajar, dan sebagainya, sehingga dapat ketahui berbagai kondisi nyata yang akan digunakan untuk kepentingan pembelajaran. Selanjutnya, secara bersama-sama pula dicarikan solusi untuk memecahkan segala permasalahan yang ditemukan. Kesimpulan dari hasil analisis kebutuhan dan permasalahan menjadi bagian yang harus dipertimbangkan dalam penyusunan RPP, sehingga RPP menjadi sebuah perencanaan yang benar-benar sangat matang, yang didalamnya sanggup mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi selama pelaksanaan pembelajaran berlangsung, baik pada tahap awal, tahap inti sampai dengan tahap akhir pembelajaran.   b. Tahapan Pelaksanaan (Do) Pada tahapan yang kedua, terdapat dua kegiatan utama yaitu: (1) kegiatan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh salah seorang guru yang disepakati atau atas permintaan sendiri untuk mempraktikkan RPP yang telah disusun bersama, dan (2) kegiatan pengamatan atau observasi yang dilakukan oleh anggota atau komunitas Lesson Study yang lainnya (baca: guru, kepala sekolah, atau pengawas sekolah, atau undangan lainnya yang bertindak sebagai pengamat/observer) Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam tahapan pelaksanaan, diantaranya: 1. Guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah disusun bersama. 2. Siswa diupayakan dapat menjalani proses pembelajaran dalam setting yang wajar dan natural, tidak dalam keadaan under pressure yang disebabkan adanya program Lesson Study. 3. Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, pengamat tidak diperbolehkan mengganggu jalannya kegiatan pembelajaran dan mengganggu konsentrasi guru maupun siswa. 4. Pengamat melakukan pengamatan secara teliti terhadap interaksi siswa-siswa, siswa-bahan ajar, siswa-guru, dan siswa-lingkungan lainnya, dengan menggunakan instrumen pengamatan yang telah disiapkan sebelumnya dan disusun bersama-sama. 5. Pengamat harus dapat belajar dari pembelajaran yang berlangsung dan bukan untuk mengevalusi guru. 6. Pengamat dapat melakukan perekaman melalui video camera atau photo digital untuk keperluan dokumentasi dan bahan analisis lebih lanjut dan kegiatan perekaman tidak mengganggu jalannya proses pembelajaran. 7. Pengamat melakukan pencatatan tentang perilaku belajar siswa selama pembelajaran berlangsung, misalnya tentang komentar atau diskusi siswa dan diusahakan dapat mencantumkan nama siswa yang bersangkutan, terjadinya proses konstruksi pemahaman siswa melalui aktivitas belajar siswa. Catatan dibuat berdasarkan pedoman dan urutan pengalaman belajar siswa yang tercantum dalam RPP. Dalam mengamati kelas yang dibuka, pengamat sebaiknya memilih posisi berdiri dengan cermat.   Posisi berdiri yang paling tepat dan baik untuk mengamati kelas yang dibuka adalah posisi A atau B. Pada posisi ini, para pengamat dapat dengan jelas mengamati seluruh siswa dari depan. Akan tetapi, tentu saja tidak semua observer dapat berdiri di posisi ini. Oleh sebab itu, observer yang lain harus dapat mengamati pembelajaran setidaknya dari sisi-sisi kelas. Namun pada suatu saat, misalnya ketika siswa sedang kerja kelompok, para observer berpindah posisi dan mendekat siswa di kelompok-kelompok. Para guru diharapkan untuk membuat catatan ketika mengamati kelas yang dibuka. Pada tahap awal Lesson Study, sebaiknya seluruh pengamat menggunakan lembar pengamatan yang sama untuk mencatat temuan-temuan. Hal ini akan sangat berguna ketika melakukan pengamatan serta refleksi karena akan menarik perhatian mereka pada hal-hal yang penting. Sebenarnya tidak ada bentuk standar untuk lembar pengamatan. Pada saat mengamati suatu pelajaran, pertama, pengamat harus memperhatikan apakah ada siswa yang terlihat kesulitan dalam mengikuti pembelajaran, dan mengapa dia seperti itu. Hal penting lain yang harus anda perhatikan adalah kualitas pembelajaran. Pengamat dilarang keras untuk berbicara atau mengajari siswa ketika mengamati pelajaran. Pada setiap pengamatan, para pengamat harus mampu memetik pelajaran berharga yang berguna demi memperbaiki pengajaran mereka sehari-hari. Inilah yang dimaksudkan dengan ‘belajar dari pengamatan’.     c. Tahapan Refleksi (See) Tahapan ketiga merupakan tahapan yang sangat penting karena upaya perbaikan proses pembelajaran selanjutnya akan bergantung dari ketajaman analisis para perserta berdasarkan pengamatan terhadap pelaksanaan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Kegiatan refleksi dilakukan dalam bentuk diskusi yang diikuti seluruh peserta Lesson Study yang dipandu oleh kepala sekolah atau peserta lainnya yang ditunjuk. Diskusi dimulai dari penyampaian kesan-kesan guru yang telah mempraktikkan pembelajaran, dengan menyampaikan komentar atau kesan umum maupun kesan khusus atas proses pembelajaran yang dilakukannya, misalnya mengenai kesulitan dan permasalahan yang dirasakan dalam menjalankan RPP yang telah disusun.   Selanjutnya, semua pengamat menyampaikan tanggapan atau saran secara bijak terhadap proses pembelajaran yang telah dilaksanakan (bukan terhadap guru yang bersangkutan). Dalam menyampaikan saran-saranya, pengamat harus didukung oleh bukti-bukti yang diperoleh dari hasil pengamatan, tidak berdasarkan opininya. Berbagai pembicaraan yang berkembang dalam diskusi dapat dijadikan umpan balik bagi seluruh peserta untuk kepentingan perbaikan atau peningkatan proses pembelajaran. Oleh karena itu, sebaiknya seluruh peserta pun memiliki catatan-catatan pembicaraan yang berlangsung dalam diskusi. Seperti yang sudah sering disebutkan di atas bahwa pengamat perlu memberi komentar berdasarkan pada bukti-bukti ketika menyampaikan pendapat atau pernyataan dalam refleksi. Sebaiknya komentar diawali dengan deskripsi mengenai situasi tertentu. Kemudian dilanjutkan dengan analisis faktor penyebab seperti, gaya atau pendekatan mengajar, respon guru, LKS, pertanyaan dan tugas, dan lain-lain.     Lesson Study di Indonesia Lesson Study diperkenalkan di Indonesia melalui kegiatan piloting yang dilaksanakan dalam proyek follow-up IMSTEP-JICA di tiga perguruan tinggi yaitu UPI, UNY, dan UM. Di UM sendiri lessson study diperkenalkan di Malang secara formal oleh JICA expert Eisoke Saito, Ph.D. pada bulan januari 2004, selanjutnya diikuti kegiatan pengimplementasian lesson study di SMA labotarium Universitas Negeri Malang (I Made Sulandra, 2006). Lesson Study merupakan hal yang baru bagi sebagian sebagian besar guru. Lesson Study diadopsi dari Jepang dan diuji cobakan di beberapa sekolah sebagai pilot project, di antaranya di Bandung (di bawah UPI), di Yogyakarta (di bawah UNY), dan di Malang (di bawah UM). Di Jepang para guru dapat meningkatkan ketrampilan/ kecakapan dalam mengajarnya melalui kegiatan Lesson Study, yakni belajar dari suatu pembelajaran. Lesson study merupakan salah satu bentuk pembinaan guru (in-service) yang dapat dilakukan untuk meningkatkan profesionalisme guru. Lesson study dilakukan diwilayah guru mengajar dengan menggunakan kelas dalam lingkungan nyata, sehingga akan membiasakan guru bekerja secara kolaboratif baik dengan guru bidang studi dan dengan guru diluar bidang studi, bahkan dengan masyarakat. Lesson Study merupakan kolaboratif antara guru dalam menyusun rencana pembelajaran beserta research lesson-nya, pelaksanaan KBM dikelas yang disertai observasi dan refleksi. Dengan lesson study para guru dapat leluasa meningkatkan kinerja dan keprofesionalannya yang akhirnya dapat meningkatkan mutu pembelajaran. Lesson Study di Indonesia yang mulai diterapkan pada tahun 2004, hasilnya menunjukkan terjadinya peningkatan profesionalisme guru dalam melakukan pembelajaran di sekolah, meningkatkan kolaborasi akademik dan dapat dilakukan secara berkelanjutan. Efektifitas dan efisiensi program Lesson Study yang ditunjang oleh kegiatan monitoring dan evaluasi (Monev) dengan menggunakan rekaman audiovisual, sehingga para guru dapat mengkaji mutu pembelajaran berdasarkan data dan fakta yang sesungguhnya. Di Indonesia ada dua jenis lesson study, yaitu lesson study MGMP dan lesson study berbasis sekolah (LSBS). Kegiatan awal lesson study di mulai dari MGMP yang kemudian oleh masing-masing guru MGMP dikembangkan di sekolahnya masing-masing untuk semua guru mata pelajaran sehingga menjadi lesson study berbasis sekolah. Ke depan diharapkan lesson study yang dikembangkan adalah lesson study berbasis sekolah (LSBS), karena dapat diikuti oleh semua guru di sekolah bersama kepala sekolah. Lesson Study berbasis MGMP memiliki dua tujuan. Tujuan yang pertama adalah agar para guru bisa saling belajar dari realita-realita pembelajaran siswa dalam kelas yang nyata: mengapa mereka bisa atau tidak bisa belajar dengan baik dalam situasi-situasi tertentu pada pembelajaran yang diamati dan bagaimana sebaiknya guru-guru menanggapi situasi-situasi semacam itu. Kedua, oleh karena MGMP adalah perkumpulan guru-guru bidang studi yang sama, tujuan penting lainnya adalah memperkuat latar belakang mereka tentang materi pelajaran. Kelebihan dan keistimewaan lesson study berbasis MGMP adalah mampu mempererat pertalian antar guru-guru di sekolah-sekolah yang saling berdekatan. Jika para guru hanya mau bekerja sama dengan teman-teman sejawatnya di sekolah yang sama, maka mereka akan kesulitan untuk memperluas pengetahuan dan wawasan. Di sekolah lain, mungkin saja ada guru yang memiliki latar belakang lebih kuat atas satu mata pelajaran atau aspek-aspek pedagogis tertentu. Jadi, interaksi dengan guru dari sekolah lain sangat bermanfaat terutama bagi guru yang latar belakang pendidikannya “tidak sesuai”, atau yang mengajar mata pelajaran yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan mereka. Di Indonesia, banyak guru yang ditugaskan untuk mengajar berbagai mata pelajaran yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan asli mereka, karena terbatasnya jumlah tenaga pengajar di sekolah. Dalam kasus semacam itu, para guru pasti tidak memiliki kepercayaan diri yang tinggi dalam kelas dan mereka perlu mendapatkan peluang guna memperkuat kapasitas mereka. Lesson Study berbasis MGMP harus dimanfaatkan semaksimal mungkin guna memberi dukungan bagi guru-guru yang semacam itu. Salah satu sekolah pilot JICA dalam mengimplementasikan lesson study adalah Home Base Pandaan. Sebelum mengenal lesson study : 1) guru beranggapan bahwa tugas guru hanya mentransfer pengetahuan yang dimiliki guru kepada siswa dengan target kurikulum yang ada, 2) pada umumnya guru belum optimal memberikan kebebasan siswa untuk berinspirasi, berkreasi, dan melatih siswa untuk hidup mandiri, 3) guru cenderung mengatasi masalah sendiri, kurang terbuka, sehingga kurang mengadakan kolaborasi dengan teman serumpunnya, apalagi mengajar dengan diamati oleh guru yang lain, 4) pelajaran yang diberikan guru kurang menantang siswa untuk berfikir, akibatnya siswa tidak menyukai pelajaran dan segan untuk belajar. Setelah mengenal dan melakukan lesson study : Guru dapat meningkatkan kompetensinya dalam: Menyusun perangkat pembelajaran sendiri (RPP, LKS, instrument penilaian) Melaksanakan model-model pembelajaran yang relevan dengan materi. Membuat dan menggunakan media dengan baik dan benar. Pengelolaan kelas. Dapat memanfaatkan situasi dan kondisi lingkungan untuk media dan sumber pembelajaran. Guru menjadi lebih terbuka dan percaya diri, sehingga mau menerima kritik dan saran dari orang lain. Guru semakin peka terhadap kesulitan dan permasalahan belajar siswa. Guru menjadi lebih percaya bahwa setiap siswa mempunyai pengetahuan yang perlu dikembangkan. Guru dapat saling berbagi pengalaman melaksanakan pembelajaran di kelas.   Daftar Rujukan Catherine Lewis (2004) Does Lesson Study Have a Future in the United States?. Online: http://www.sowi-online.de/ journal/2004-1/lesson_lewis.htm Lesson Study Research Group online: http://www.tc.edu/lessonstudy/whatislessonstudy.html Slamet Mulyana. 2007. Lesson Study (Makalah). Kuningan: LPMP-Jawa Barat Wikipedia.2007. Lesson Study. Online: http://en.wikipedia.org/wiki/ Lesson_study
10.04.12 19:03  |   Si Data & Informasi

Supervisi Kolegial dalam Penyusunan Renstra Sekolah

Ditulis oleh H.B. Suparlan Kamis, 08 Oktober 2009 14:22 A. Renstra dan Peran Kepala Sekolah Era globalisasi yang ditandai dengan persaingan yang sangat ketat dalam semua aspek kehidupan, memberi pengaruh terhadap tuntutan akan kualitas sumber daya manusia. Pengaruh tersebut termasuk pada sumber daya tenaga pendidik dan kependidikan sebagai unsur yang mempunyai posisi sentral dan strategis dalam pembentukan SDM berkualitas. Kondisi tersebut diiringi dengan tumbuh dan berkembangnya tuntutan demokratisasi pendidikan, akuntabilitas, tuntutan kualitas serta jaminan mutu kinerja lembaga . Kepala sekolah sebagai tenaga kependidikan yang melakukan kegiatan kepemimpinan sekolah memiliki peran besar dalam mencapai tujuan pendidikan di sekolah. Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 39 ayat (1) dinyatakan bahwa : Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan. Sedangkan pada pasal 40 ayat (2)salah satu kewajiban tenaga kependidikan adalah : 1) menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis, 2) mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan, dan 3) memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya. Berdasarkan Peraturan Mendiknas nomor 13 tahun 2007 tentang Standar kepala sekolah/madrasah, dinyatakan bahwa kompetensi kepala sekolah meliputi kompetensi kepribadian, kompetensi manajerial, kompetensi kewirausahaan, kompetensi supervisi dan kompetensi sosial. Kepala sekolah memiliki peranan yang penting dalam pendidikan, kedudukan kepala sekolah sebagai tenaga professional bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional. (Direktorat Tenaga Kependidikan, 2008 ) Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa orientasi kepemimpinan yang menekankan pada orang cenderung lebih efektif. Beberapa penelitian lain menunjukkan bahwa orientasi kepemimpinan yang menekankan pada tugas justru lebih efektif (Gorton, 1991). Berkaitan dengan peranan kepemimpinan kepala sekolah tersebut, Sergiovanni (1991) mengemukakan enam peranan kepemimpinan kepala sekolah, yaitu kepemimpinan formal, kepemimpinan administratif, kepemimpinan supervisi, kepemimpinan organisasi, dan kepemimpinan tim. Kepemimpinan formal mengacu pada tugas kepala sekolah untuk merumuskan visi, misi dan tujuan organisasi sesuai dengan dasar dan peraturan yang berlaku. Untuk meningkatkan kualitas kinerja kepala sekolah, banyak upaya yang dapat ditempuh. Adair (1984) menawarkan ada lima hal yang dapat dilakukan, yaitu: (1) mengenal diri sendiri dengan Strength, Weaknesses, Opportunities, Threats (SWOT), (2) berusaha memiliki Kredibilitas, Akseptabilitas, Moralitas, dan Integritas (KAMI), (3) mempelajari prinsip-prinsip kepemimpinan, (4) menerapkan prinsip-prinsip kepemimpinan, dan (5) belajar dari umpan balik. Pengembangan sekolah diperlukan program yang terarah, baik program jangka panjang maupun program jangka pendek. Idealnya, sebuah sekolah harus memiliki sebuah rencana strategi atau renstra yang sudah mapan. Melalui renstra yang telah didasarkan pada analisis situasi internal maupun eksternal, diharapkan sekolah akan dapat berkembang dengan baik. Di dalam renstra akan memuat program sekolah jangka pendek, jangka menengah dan program jangka panjang (Direktorat Pembinaan diklat, 2008). Dalam organisasi sekolah, tujuan strategis merupakan tujuan tertinggi yang akan dicapai sekolah. Tujuan ini bersifat umum dan biasanya tidak dapat diukur secara langsung. Tujuan-tujuan taktis merupakan tujuan-tujuan yang harus dicapai oleh bagian-bagian utama organisasi sekolah, misalnya bidang kurikulum, kesiswaan, atau kerja sama dengan masyarakat (Direktorat Tenaga Kependidikan, 2008). Masing-masing tingkatan tujuan tersebut terkait dengan proses perencanaan. Tujuan strategis merupakan tujuan yang harus dicapai pada tingkat rencana strategis (strategic plan). Tujuan taktis dan tujuan operasional masing-masing merupakan tujuan-tujuan yang harus dicapai pada rencana taktis (tactical plan) dan rencana operasional (operational plan). Di samping itu perencanaan strategis juga diharapkan akan mendorong sekolah untuk menyusun langkah-langkah dalam rangka mencapai tujuan strategis, secara terus-menerus memantau pelaksanaan rencana itu, dan secara teratur melakukan pengkajian dan perbaikan untuk menjaga agar perencanaan yang dibuat tetap relevan terhadap berbagai kondisi yang terus berkembang (Nickols & Thirunamachandran, 2000). Perencanaan strategis merupakan bagian dari proses manajemen strategis yang terkait dengan proses identifikasi tujuan jangka panjang dari sebuah lembaga atau organisasi. Dalam perencanaan strategis juga direncanakan pengambilan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan, dan pemantauan (monitoring) kemajuan atau kegagalan dalam rangka menentukan strategi di masa depan (Nickols dan Thirunamachandran, 2000).     B. Permasalahan Berdasarkan data dari angket yang respondennya adalah peserta diklat manajemen sekolah di PPPPTK PKn dan IPS tahun 2008 diperoleh masukan permasalahan sebagai berikut : 1) Dalam kenyataannya sebagian kepala sekolah belum memiliki kemauan dan kemampuan untuk menyusun Rencana Strategi ( renstra ) sekolah. 2) Terdapat beberapa sekolah yang belum memiliki renstra. 3) Dewasa ini kualitas kepala sekolah dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin, Administrator sekolah dirasa belum merata. 4) Supervisi kolegial masih jarang dilaksanakan di sekolah. Baik supervisi kolegial antar kepala sekolah, maupun supervisi kolegial antar Guru.       C. Supervisi Kolegial Untuk menghasilkan renstra yang baik dan tepat guna sesuai dengan kebutuhan sekolah, diperlukan sosialisasi tentang cara penyusunan renstra. Di samping itu juga perlu adanya kerja sama dari beberapa pihak untuk terlibat dalam penyusunan renstra. sekolah yang belum mengembangkan renstra perlu belajar pada sekolah yang telah berpengalaman dalam mengembangkan renstra. Hakekat keterlibatan banyak orang yang secara bersama untuk saling membantu merupakan bagian dari supervisi kolegial (Oliva, 1994). Supervisi kolegial atau supervisi kesejawatan atau kolegial diartikan sebagai dua atau lebih individu yang berinteraksi dan berinterdependensi secara bersama-sama untuk mencapai tujuan yang secara khusus sudah ditetapkan. Menurut Arikunto (1988) fokus kegiatan supervisi adalah situasi belajar mengajar yangdilakukan melalui dua pendekatan utama dalam supervisi yaitu pendekatan individu dan pendekatan kelompok (Gwyn, 1991). Disebut tehnik individual karena bentuk pelaksanaannya ditujukan kepada guru tertentu yang mempunyai masalah khusus yang bersifat perseorangan (Bafadal, 1995) disebut pendekatan kelompok jika teknik yang digunakan itu dilaksanakan bersama-sama oleh supervisor dengan sejumlah guru dalam satu kelompok (Elsbre, 1959). Pelaksanaan supervisi individual menimbulkan dua masalah: (1) supervisi seperti itu mirip dengan sistem inspektorial dan biasanya menimbulkan respon yang negatif dari para guru, (2) model supervisi seperti ini juga terbatas pada hubungan antara klien dan konsultan secara satu arah saja, dimana guru diasumsikan sebagai klien dan supervisor diasumsikan sebagai konsultan (Sergeovanni dkk, 1983). Suatu kelompok belajar oleh Robbins (1984) diartikan sebagai dua atau lebih individu yang berinteraksi dan berinterdependensi secara bersama-sama untuk mencapai tujuan yang secara khusus sudah ditetapkan. Demikian pula Gywn (1991) menjelaskan bahwa kelompok belajar terbentuk atas dua atau lebih individu yang bekerja sama antara yang satu dengan yang lain secara bersama-sama untuk memecahkan beberapa masalah yang tak dapat dipecahkan oleh individu sendiri dikenal dengan supervisi kolegial. Mengapa ada kelompok belajar? Pertanyaan ini mengarah pada pentingnya belajar kelompok melalui kegiatan supervisi kolegial. Melalui kegiatan kelompok semua masalah yang dihadapi individu dapat terpecahkan secara bersama-sama, individu dapat menjadi diri mereka sendiri, mengekspresikan perasaan-perasaan mereka yang sebenarnya, mereka belajar secara kolegial (Oliva, 1993 ). Belajar kelompok bertujuan memecahkan masalah, mengutarakan pendapat, menemukan pola berfikir yang runtun, menilai pendapat seseorang secara obyektif meningkatkan tenggang rasa dan rasa saling memiliki. Melalui belajar secara kolegial atau supervisi kolegial, tiap orang bisa memberi dan menerima masukan dari anggota kelompok (Wiles, 1981). Hasil kolektif suatu kelompok belajar biasanya lebih baik secara kerjanya dari pada hasil pemikiran orang yang bertindak secara individual (Siagian, 1990). Nasution (1982) mengemukakan di dalam kegiatan kelompok dengan supervisi kolegial, individu yang tergabung di dalamnya saling membantu, mengoreksi kesalahan teman dan saling menunjukkan sikap toleransi antara mereka, saling membangkitkan minat, dan mempertinggi hasil belajar secara kualitatif dan kuantitatif. Siagian (1990) menyatakan bahwa manfaat yang diperoleh dengan keterlibatan kelompok dalam supervisi kolegial dan dalam pengambilan keputusan terdiri dari : (1) pendekatan kelompok biasanya mendatangkan keuntungan, (2) keterlibatan banyak orang biasanya berbagai sumber daya dapat dimanfaatkan, (3) gabungan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman orang-orang dapat dimanfaatkan, (4) pengurangan pandangan yang subyektif, (5) keterikatan terhadap keputusan yang diambil, (6) pentingnya pemanfaatan komunikasi di dalam kelompok, (7) meningkatkan mutu keputusan yang diambil. Siagian (1990) menyatakan bahwa melalui supervisi kolegial dalam kelompok Kepala Sekolah akan mewarnai persepsi dan cara pengambilan keputusan. Karena itu persepsi setiap personil Kepala sekolah sebagai anggota kelompok akan dipengaruhi oleh rekan-rekan sesama. Melalui supervisi kolegial, Kepala sekolah sebagai anggota kelompok akan dapat berkembang kompetensinya melalui bantuan dan membantu sesama dalam memecahkan permasalahan.     D. Penyusunan Renstra pada Diklat manajemen sekolah PPPPTK PKn dan IPS Malang sebagai lembaga unit pelaksana teknis Departemen Pendidikan Nasional, mempunyai tugas melaksanakan pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan. Tugas tersebut tertuang dalam Peraturan Mendiknas Nomor 8 Tahun 2007. Penanganan terhadap tugas tersebut perlu dirancang sedemikian rupa sehingga hasilnya betul-betul diterima oleh masyarakat. Dalam hal peningkatan kompetensi tenaga kependidikan, khususnya kepala sekolah, lembaga ini memiliki tanggung jawab untuk ikut serta dalam memberikan alternatif jalan keluarnya, yakni melalui pelaksanaan pendidikan dan pelatihan (diklat) manajemen sekolah yang pesertanya diantaranya adalah kepala sekolah. Diklat ini bertujuan memberi bekal kepada kepala sekolah untuk melaksanakan manajemen sekolah yang berkualitas sesuai dengan tujuan pendidikan. Dalam diklat manajemen sekolah di PPPPTK PKn dan IPS, pesertanya terdiri dari kepala sekolah yang berasal dari wakil dari berbagai provinsi di seluruh Indonesia. Mereka memiliki kemampuan yang sangat heterogen dalam mengelola sekolah, ada yang sudah maju, namun di antara mereka juga ada yang masih perlu ditingkatkan kompetensinya. Hanya sebagian dari mereka yang sudah menyusun renstra sekolah , sebagian besar dari mereka belum menyusun renstra. Berdasarkan data dari angket (2008 ), dari 50 kepala sekolah hanya 7 kepala sekolah yang sudah menyusun renstra, atau hanya 14 % kepala sekolah yang telah menyusun renstra. Hal ini berarti perlu adanya supervisi kolegial atau belajar dari teman sejawat sesama kepala sekolah dalam menyusun renstra, khususnya selama pelaksanaan diklat manajemen sekolah. Dalam hal ini kepala sekolah perlu memiliki kemauan dan kemampuan untuk melaksanakan kepemimpinan sekolah sesuai dengan standar pengelolaan sekolah. kepala sekolah, khususnya peserta diklat juga harus diupayakan untuk meningkatkan kompetensinya. Sehubungan dengan kenyataan tersebut, maka mengembangkan model supervisi kolegial dalam menyusun renstra pada diklat manajemen sekolah di PPPPTK PKn dan IPS Malang. Melalui supervisi kolegial dalam penyusunan renstra , mereka akan bekerja sama dalam pengambilan keputusan. Persepsi setiap personil Kepala sekolah sebagai anggota kelompok akan saling membantu rekan-rekan sesama. Melalui supervisi kolegial, kepala sekolah sebagai anggota kelompok akan dapat berkembang kompetensinya melalui bantuan dan membantu sesama dalam memecahkan permasalahan.     DAFTAR PUSTAKA Adair, John. 1984. Menjadi Pemimpin Efektif. Jakarta: PT. Pustaka Binaman Pressindo. Arikunto, S.1988. Organisasi dan Administrasi Penduduk Teknologi Kejuruan. Jakarta: Depdikbud P. PNLPTK. Bafadal, I & Imron, A. 2004 Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Malang: Kerjasama FIP UM dan Ditjen-Dikdasmen. Depdiknas, 2006. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan. 2005. Jakarta: Sekretariat Jenderal Departemen Pendidikan Nasional. Depdiknas. 2008. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2007 Tentang Standar Kepala Sekolah. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Depdiknas. 2004, Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas. Direktorat Pembinaan Diklat, 2007. Rencana Strategis (Renstra) Direktorat Pembinaan Diklat. Jakarta : Direktorat Pembinaan Diklat. Eslbree, S.W. & Mc. Nally .1959. Elementary School Administrator and Supervisi (2 nd ed). New York: American Book Company. Gorton, R.A, & Schneider, G.T. 1991. School Based Leadership, Challenges and Opportunities. Keeper Boulevard, Dubuque: Wm.C. Brown Publishers. Gwyn, J.M., 1961. Theory and practice of supervision. New York: Dodd. Mead and Company inc Nasution, S. 1982. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta: Bina Aksara. Nickols, K. & Thirunamachandran, R. (2000). Strategic Planning in Higher Education: A Guide for Heads of Institutions, Senior Managers and Members of Governing Bodies. In Website: www.hefce.ac.uk Oliva, F. P. 1984. Supervisi today school (2nd ed). New York: Longman Inc. PPPPTK PKn dan IPS. 2007. Renstra PPPPTK PKn dan IPS. Malang: PPPPTK PKn dan IPS. Robbin, P.S. 1984. Essenfels of orgaization behavior. Englewood cliffs. New Jersey: Prentice Hall Inc. Sergiovanni, T.J. 1987. The Principalship: A. Reflective Practice Perspective. Boston: Allyn and Bacon, Inc. Siagian, S.P. 1998. Manajemen Strategis. Jakarta: Bumi Aksara Cetakan Kedua. Wiles, K., 1961. Supervision for Better Schools. New York: Prentice Hall, INC.   *) Dr. H.B. Suparlan, M.Pd. adalah Widyaiswara PPPPTK PKn dan IPS
10.04.12 19:03  |   Si Data & Informasi
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Kewarganegaraan dan Ilmu Pengetahuan Sosial
Jl. Arhanud, Ds. Sekar Putih Kel. Pendem Kec. Junrejo Kota Batu
Jawa Timur
Telp. 0341-532100
Fax. 0341-532110
, p{2}
Copyright © 2016 PPPPTK PKn & IPS
Powered by Lubna.Us