Masjid Baru PPPPTK PKn IPS

PPPPTK PKn dan IPS sekarang telah memiliki sebuah masjid yang diberi nama Masjid Al-Ikhlas. Masjid ini telah selesai dibangun sejak pertengahan November 2011 dan telah digunakan untuk pelaksanaan sholat lima waktu termasuk sholat jum’at bagi karyawan dan peserta diklat. Masjid ini terletak tepat di samping kantor pusat dan memiliki luas 400 m2, serta dapat menampung jama’ah sholat kurang lebih 200 orang. Masjid yang indah ini juga dikelilingi oleh taman yang ditata dengan cukup cantik (hp).
09.02.12 18:32  |   Si Data & Informasi

Diklat Pembelajaran Tematik Kabupaten Parigi Mauting

Selama empat hari mulai tanggal 21 sampai dengan 24 Maret 2011, PPPPTK PKn dan IPS mendapat kunjungan dan permintaan kerja sama berupa pelaksanaan diklat bagi guru-guru dan kepala sekolah SD berasal dari Kabupaten Parigi Moutong. Guru-guru yang ikut dalam kegiatan ini terutama adalah guru-guru kelas awal (Kelas 1, 2, dan 3). Diklat ini memang menfokuskan kegiatannya pada Diklat Pembelajaran Tematik. Kegiatan ini dibimbing oleh widyaiswara dari PPPPTK PKn dan IPS di antaranya adalah Ibu Dra. Dyah Sriwilujeng, M.Pd, Ibu Dr. Ari Pujiastuti, M. Pd., dan Bapak Drs. Sucahyono, M.Pd. Selama empat hari itu guru-guru dari Kabupaten Parigi Moutong ini melaksanakan kegiatan pelatihan untuk meningkatkan kompetensinya terutama dalam bidang pembelajaran tematik SD. Peserta tidak hanya diberikan materi secara teori, tetapi lebih banyak diberikan pelatihan berupa praktik-praktik mulai dari penyusunan silabus sampai dengan penilaiannya. Peserta dibentuk dalam bateberapa kelompok untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam melalui kegiatan diskusi atau tukar pendapat dengan sesama peserta. Fasilitator dalam menyampaikan materi menggnakan berbagai metode sehingga peserta tidak merasa bosan, tetapi selalu aktif mengikuti pembelajaran dan dapat mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dengan baik. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami, sebab selama ini pandangan kami tentang pembelajaran tematik sangat sulit dilakukan, tetapi setelah mendapatkan pelatihan di PPPPTK PKn dan IPS ini kami menjadi jelas dan tidak ragu-ragu lagi dalam melaksanakan pembelajaran tematik di sekolah kami. Itulah salah satu pendapat peserta Diklat Pembelajarn Tematik yang sempat dimintai pendapatnya oleh redaksi MIPSOS disela-sela istirahat menjelang penutupan diklat. Semoga harapan ini bisa benar-benar terwujud, selain bisa diimplementasikan di sekolahnya, harapannya juga bisa diimbaskan kepada guru-guru lain yang ada di daerah. Semoga. (RED)
02.12.11 17:16  |   Si Data & Informasi

Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Pemberdayaan Pengawas Sekolah

Ditulis oleh Dra. Retno Kinteki, M.Sos Jumat, 02 Desember 2011 16:37 Undang-Undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dalam Bab I Pasal 1 ayat 1 disebutkan Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sedangkan dalam ayat ke 3 disebutkan bahwa, sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas sangat terkait erat dengan keberhasilan peningkatan kompetensi dan profesionalisme pendidik dan tenaga kependidikan. Pengawas sekolah merupakan salah satu pendidik dan tenaga kependidikan yang posisinya memegang peran yang signifikan dan strategis dalam meningkatkan profesionalisme guru dan mutu pendidikan di sekolah. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah menegaskan bahwa seorang pengawas harus memiliki 6 (enam) kompetensi minimal, yaitu kompetensi kepribadian, supervisi manajerial, supervisi akademik, evaluasi pendidikan, penelitian dan pengembangan serta kompetensi sosial. Kondisi di lapangan saat ini tentu saja masih banyak pengawas sekolah/madrasah yang belum menguasai keenam dimensi kompetensi tersebut dengan baik. Dalam Peraturan Pemerintah nomor 74 tahun 2008 disebutkan, pengawas sekolah adalah guru pegawai negeri sipil yang diangkat dalam jabatan pengawas sekolah. Pengawasan adalah kegiatan pengawas sekolah dalam menyusun program pengawasan, melaksanakan program pengawasan, evaluasi hasil pelaksanaan program, dan melaksanakan pembimbingan dan pelatihan professional guru. Kemudian pada pasal 15 ayat 4 dijelaskan, bahwa pengawas sekolah harus melaksanakan kegiatan pengawasan akademik dan pengawasan manajerial. Dengan demikian pengawas sekolah dituntut mempunyai kualifikasi dan kompetensi yang memadai untuk dapat menjalankan tugas kepengawasannya. Pengawas profesional adalah pengawas sekolah yang melaksanakan kegiatan pengawasan akademik dan pengawasan manajerial serta kegiatan pembimbingan dan pelatihan profesional guru dengan optimal. Survei yang dilakukan oleh Direktorat Tenaga Kependidikan pada Tahun 2008 terhadap para pengawas di suatu kabupaten (Direktorat Tenaga Kependidikan, 2008: 6) menunjukkan bahwa para pengawas memiliki kelemahan dalam kompetensi supervisi akademik, evaluasi pendidikan, dan penelitian dan pengembangan. Sosialisasi dan pelatihan yang selama ini biasa dilaksanakan dipandang kurang memadai untuk menjangkau keseluruhan pengawas dalam waktu yang relatif singkat. Selain itu, karena terbatasnya waktu maka intensitas dan kedalaman penguasaan materi kurang dapat dicapai dengan kedua strategi ini. Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap sejumlah pengawas dari seluruh propinsi, ternyata pembinaan terhadap para pengawas satuan pendidikan dalam rangka meningkatkan kemampuan profesionalnya boleh dikatakan belum berjalan sebagaimana mestinya. Pengawas sekolah berjalan apa adanya dengan tugas pokok dan fungsinya melakukan pengawasan dengan berbekal kemampuan yang telah dimilikinya. Pengawas juga membuat laporan kepada Kepala Dinas Pendidikan tentang apa yang telah dilakukannya sesuai dengan tupoksinya namun laporan tersebut belum dijadikan dasar bagi upaya pembinaan para pengawas. Kalaupun ada pembinaan terbatas pada arahan dan penjelasan Kepala Dinas Pendidikan tentang berbagai kebijakan pendidikan dalam rapat-rapat khusus dengan para pengawas dan pejabat lainnya. Pembinaan para pengawas yang dilaksanakan secara terencana dan bersinambungan yang mengarah pada kemampuan profesional para pengawas dan pengembangan karirnya sebagai tenaga fungsional belum banyak dilaksanakan. Berdasarkan kenyataan tersebut maka upaya untuk meningkatkan kompetensi pengawas harus dilakukan melalui berbagai strategi. Salah satu strategi yang dapat ditempuh untuk menjangkau keseluruhan pengawas dengan waktu yang cukup singkat adalah memanfaatkan forum Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (KKPS) dan Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah (MKPS) sebagai wahana belajar bersama.   Standar Kompetensi Pengawas Pengawas satuan pendidikan diangkat dengan tugas melakukan pembinaan dan pengawasan pendidikan pada satuan pendidikan atau sekolah yang menjadi binaannya. Pengawasan satuan pendidikan meliputi pengawasan akademik dan pengawasan manajerial. Pengawasan akademik bertujuan membantu atau membina guru dalam meningkat­kan mutu proses pembelajaran agar diperoleh hasil belajar siswa yang lebih optimal. Sedangkan pengawasan manajerial bertujuan membantu dan membina kepala sekolah dalam upayanya meningkatkan mutu pendidikan melalui optimalisasi kinerja sekolah. Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pengawas satuan pendidik­an/sekolah, diperlukan kemampuan-kemampuan dasar yang dipersyaratkan sebagai pengawas profesional. Oleh sebab itu, kompetensi pengawas sekolah perlu ditingkatkan dan dikembangkan secara bekelanjutan. Tanpa memiliki kompetensi profesional dalam hal kepengawasan, para pengawas akan sulit meningkatkan kinerjanya sehingga langsung maupun tidak langsung tidak akan berdampak terhadap mutu kinerja sekolah atau satuan pendidikan yang dibinanya. Dalam permendiknas nomor 12 tahun 2007 mengenai standar kompetensi pengawas disebutkan bahwa pengawas sekolah selain harus memiliki kualifikasi tertentu juga harus memiliki kompetensi standar sebagai standar minimal. Ada enam dimensi kompetensi yang meliputi : Kompetensi Kepribadian. Kompetensi Supervisi Manajerial. Kompetensi Supervisi Akademik. Kompetensi Evaluasi Pendidikan. Kompetensi Penelitian Pengembangan. Kompetensi Sosial. Dari 6 dimensi kompetensi tersebut dijabarkan lagi menjadi 36 kompetensi yang harus dikuasai oleh pengawas. Sedangkan kepala sekolah terdapat 5 dimensi kompetensi dengan penjabaran 33 kompetensi yang harus dikuasai, dan untuk guru terdapat 4 dimensi kompetensi dengan penjabaran 24 kompetensi yang harus dikuasai oleh guru. Seperti disebutkan di atas, bahwa dari hasil penelitian, kompetensi pengawas sekolah di bidang supervisi akademik, evaluasi pendidikan, dan penelitian pengembangan yang masih rendah. Dari hasil wawancara penulis dengan beberapa pengawas mengenai standar kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap pengawas, mereka menyatakan mengetahui mengenai permendiknas nomor 12 tahun 2007 dan memiliki kompetensi seperti yang diharapkan dalam permen tersebut. Tetapi dalam kenyataannya standar kompetensi pengawas memang belum memenuhi seperti yang tertuang dalam permen tersebut. Contohnya adalah kompetensi mereka mengenai Penelitian Tindakan Kelas (PTK) masih sangat minim, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun penyusunan laporan PTK. Padahal dalam standar kompetensi ke 5 mengenai penelitian dan pengembangan, pada sub kompetensi ke 8 disebutkan bahwa pengawas mampu memberikan bimbingan kepada guru tentang penelitian tindakan kelas, baik perencanaan maupun pelaksanaannya di sekolah. Selain itu dalam kompetensi ke 3 mengenai kompetensi supervisi akademik, yaitu sub kompetensi ke 8 memotivasi guru untuk memanfaatkan teknologi informasi dalam pembelajaran/bimbingan. Pada kenyataannya sebagian besar pengawas masih belum melek teknologi. Hal inilah yang menjadikan Kementerian Pendidikan Nasional melalui Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan, Badan PSDM dan PMP mengadakan diklat Penguatan Kemampuan Pengawas Sekolah dalam upaya untuk lebih memantapkan kompetensi pengawas sekolah. Posisi, peran dan eksistensi pengawas harus terus dibina agar citra pengawas satuan pendidikan/sekolah lebih meningkat sebagaimana yang kita harapkan. Pengawas harus mempunyai nilai lebih dari guru dan kepala sekolah baik dari segi kualifikasi, kemampuan, kompetensi, finansial dan dimensi lainnya agar kehadirannya di sekolah betul-betul didambakan stakeholder sekolah. Dengan meningkatnya kompetensi pengawas diharapkan terjadi peningkatan kinerjanya sehingga berdampak terhadap mutu pendidikan pada satuan pendidikan yang dibinanya. Pembinaan diberikan kepada para pengawas satuan pendidikan untuk semua kategori jabatan pengawas yakni pengawas pratama, pengawas muda, pengawas madya dan pengawas utama. Tugas pengawas dalam melakukanpenilaian dan pembinaan bukanlah tugas yang ringan, karena bukan sekedar datang berkunjung ke sekolah tanpa ada tidak lanjutnya. Tugas menilai dan membina membutuhkan kemampuan dalam hal kecermatan melihat kondisi sekolah, ketajaman analisis dan sintesis, ketepatan memberikan treatment yang diperlukan serta komunikasi yang baik antara pengawas sekolah dengan setiap individu di sekolah. Arti pembinaan sendiri adalah memberikan arahan, bimbingan, contoh dan saran dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah. Dengan kemampuan-kemampuan tersebut diharapkan pengawas sekolah dapat menjadi partner kerja yang serasi dengan pihak sekolah dalam memajukan sekolah binaannya, bukan lagi menjadi seorang “pengawas” yang mencari-cari kesalahan guru dan kepala sekolah.   Peran Pengawas Dalam Meningkatkan Mutu Penidikan Dalam meningkatkan mutu pendidikan sejalan dengan PP No. 19 Tahun 2005 tentang standar mutu pendidikan, peranan pengawas satuan pendidikan/sekolah sangat penting dalam meningkatkan mutu pendidikan pada satuan pendidikan binaannya. Oleh sebab itu, pembinaan pengawas agar dapat melaksanakan tugas kepengawasan akademik dan manajerial mutlak diperlukan. Tugas pengawas mencakup: (1) inspecting (mensupervisi), (2) advising (memberi advis atau nasehat), (3) monitoring (memantau), (4) reporting (membuat laporan), (5) coordinating (mengkoordinasi) dan (6) performing leadership dalam arti memimpin dalam melaksanakan kelima tugas pokok tersebut (Ofsted, 2003). Berdasarkan uraian tugas-tugas pengawas sebagaimana dikemukakan di atas, maka pengawas satuan pendidikan banyak berperan sebagai: (1) penilai, (2) peneliti, (3) pengembang, (4) pelopor/inovator, (5) motivator, (6) konsultan, dan (7) kolaborator dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di sekolah binaannya. Sehingga pengawas memiliki tugas pokok pengawasan akademik dan pengawasan manajerial seperti berikut ini. Tabel Matrik Tugas Pokok Pengawas Rincian Tugas Pengawasan Akademik (Teknis Pendidikan/ Pembelajaran) Pengawasan Manajerial (Administrasi dan Manajemen Sekolah) Inspecting/ Pengawasan Pelaksanaan kurikulum mata pelajaran Proses pembelajaran/ praktikum/ studi lapangan Kegiatan ekstra kurikuler Penggunaan media, alat bantu dan sumber belajar Kemajuan belajar siswa Lingkungan belajar Pelaksanaan kurikulum sekolah Penyelenggaraan dministrasi sekolah Kinerja kepala sekolah dan staf sekolah Kemajuan pelaksanaan pendidikan di sekolah Kerjasama sekolah dengan masyarakat Advising/ Menasehati Menasehati guru dalam pembelajaran/bimbingan yang efektif Guru dalam meningkatkan kompetensi professional Guru dalam melaksanakan penilaian proses dan hasil belajar Guru dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas Guru dalam meningkatkan kompetensi pribadi, sosial dan pedagogik Kepala sekolah di dalam mengelola pendidikan Kepala sekolah dalam melaksanakan inovasi pendidikan Kepala sekolah dalam peningkatan kemamapuan professional kepala sekolah Menasehati staf sekolah dalam melaksanakan tugas administrasi sekolah Kepala sekolah dan staf dalam kesejahteraan sekolah Monitoring/ Memantau Ketahanan pembelajaran Pelaksanaan ujian mata pelajaran Standar mutu hasil belajar siswa Pengembangan profesi guru Pengadaan dan pemanfaatan sumber-sumber belajar Penyelenggaraan kurikulum Administrasi sekolah Manajemen sekolah Kemajuan sekolah Pengembangan SDM sekolah Penyelenggaraan ujian sekolah Penyelenggaraan penerimaan siswa baru Coordinating/ mengkoordinir Pelaksanaan inovasi pembelajaran Pengadaan sumber-sumber belajar Kegiatan peningkatan kemampuan profesi guru Mengkoordinir peningkatan mutu SDM sekolah Penyelenggaraan inovasi di sekolah Mengkoordinir akreditasi sekolah Mengkoordinir kegiatan sumber daya pendidikan Reporting/ melaporkan Kinerja guru dalam melaksanakan pembelajaran Kemajuan belajar siswa Pelaksanaan tugas kepengawasan akademik Kinerja kepala sekolah Kinerja staf sekolah Standar mutu pendidikan Inovasi pendidikan   Tujuan umum pembinaan dan pengembangan karir pengawas satuan pendidikan sebagaimana dikemukakan di atas perlu dijabarkan lebih lanjut menjadi tujuan-tujuan yang lebih khusus agar memudahkan dalam menetapkan program pembinaan. Adapun tujuan khusus pembinaan pengawas satuan pendidikan adalah agar para pengawas satuan pendidikan/sekolah: 1. Mampu melaksanakan tugas pokok dan fungsinya melaksanakan pengawasan akademik dan pengawasan manajerial pada satuan pendidikan yang dibinanya. 2. Meningkatnya kompetensi pribadi, kompetensi sosial, kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional sehingga dapat mempertinggi kinerjanya. 3. Mampu bekerjasama dengan guru, kepala sekolah, staf sekolah dan komite sekolah dalam meningkatkan kinerja satuan pendidikan/sekolah binaannya. 4. Mampu melakukan berbagai inovasi pendidikan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di sekolah binaannya. 5. Berjalannya jenjang karir jabatan pengawas melalui angka kredit jabatan fungsional. 6. Hasil yang diharapkan dari pembinaan dan pengembangan karir pengawas satuan pendidikan/sekolah adalah diperolehnya pengawas yang profesional sehingga dapat melaksanakan tugas pokok dan fungsinya dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di sekolah binaannnya. Bagaimana upaya-upaya yang perlu dilakukan guna menjadikan pendidikan formal persekolahan menjadi motor dan agen perubahan yang dapat memberi dampak pada semua jalur pendidikan dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan. Hal ini memerlukan pemikiran bersama serta kerja bersama untuk secara bertahap makin dapat memenuhi kebutuhan dan tuntutan masyarakat terhadap mutu pendidikan serta tuntutan perubahan yang sangat cepat akan mutu persekolahan, yang mau tidak mau memerlukan respons yang cerdas dari tenaga pendidik serta tenaga kependidikan. Oleh karena itu pengawas sebagai tenaga kependidikan yang diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan khususnya persekolahan, perlu terus melakukan upaya memposisikan diri yang makin tepat dalam konteks pembangunan pendidikan serta peningkatan mutu pendidikan melalui persekolahan, sehingga peran yang dimainkan akan makin memberi dampak signifikan bagi masyarakat, dan dalam perkembangan dunia pendidikan dewasa ini. Maka orientasi pada mutu nampaknya perlu lebih mendapat perhatian serta menjadikan dasar dalam setiap melaksanakan tugas kepengawasan, sehingga kontribusi pengawas bagi peningkatan mutu pendidikan makin bermakna. Dalam bidang pendidikan, pandangan tentang mutu tersebut dapat dilihat dari standar-standar yang telah ditetapkan berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan (quality in fact) dan dari kepuasan pelanggan atau konsumen pendidikan (quality in perception). Penjaminan mutu berkaitan dengan inisiatif superstruktur organisasi sekolah atau kepala sekolah dan pendekatannya bersifat top down, sementara peningkatan mutu terkaitan dengan pemberdayaan anggota organisasi sekolah untuk dapat berinisiatif dalam meningkatkan mutu pendidikan baik menyangkut peningkatan kompetensi individu, maupun kapabilitas organisasi melalui inisiatif sendiri sehingga pendekatannya bersifat bottom up. Pelaksanaan peran dan tugas pengawasan di sekolah sebenarnya dapat diposisikan dalam upaya penjaminan mutu (quality assurance) yang diimbangi dengan peningkatan mutu (qualitity enhancement). Dalam kaitan tersebut, maka pengawasan di sekolah perlu lebih menekankan pada mutu melalui tahapan quality assurance dengan pemantauan kesesuaian dengan standar-standar pendidikan, yang kemudian diikuti dengan quality enhancement, sehingga peningkatan mutu pendidikan di sekolah dapat menjadi gerakan bersama dengan motor utamanya adalah pengawas melalui pelaksanaan supervisi manajerial dan supervisi akademik. Gambar di bawah inimenunjukan dua aspek penting berkaitan dengan peningkatan mutu pendidikan, yaitu tenaga birokrasi yang mempunyai otoritas kebijakan mutu dan pengawas dengan otoritas penjaminan mutu dan tindaklanjutnya melalui peningkatan mutu setelah diperkuat dengan kebijakan mutu.   Penutup Pembinaan dan pengembangan kemampuan profesional pengawas satuan pendidikan harus terus dilakukan agar mereka dapat melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pengawas satuan pendidikan. Pembinaan menjadi tanggung jawab Kepala Dinas Pendidikan setempat. Pembinaan pengawas satuan pendidikan mencakup pembinaan profesi dan pembinaan karir. Pembinaan profesi diarahkan untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan profesionalnya agar dapat melaksanakan fungsi kepengawasan baik pengawasan akademik maupun pengawasan manajerial. Sedangkan pembinaan karir pengawas diarahkan untuk meningkatkan pangkat dan jabatan fungsionalnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pembinaan pengawas satuan pendidikan atau pengawas sekolah harus dirancang dan dikembangkan secara terpola dan bersinambungan agar kemampuan profesional dan karir pengawas satuan pendidikan mendorong peningkatan kinerjanya. Pembinaan dilaksanakan oleh Direktorat Tenaga Kependidikan dan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota/Kabupaten dan atau Dinas Pendidikan tingkat propinsi melalui program-program yang jelas, terarah serta dievaluasi secara terencana. Dalam rangka peningkatan profesionalisme ini maka diperlukan standardisasi kompetensi pengawas sekolah sebagai jaminan kesamaan penguasaan kompetensi yang diperlukan dalam hal pengawasan sekolah sehingga sekolah dapat lebih dilayani dan dibina secara efektif, efisien dan produktif. Disusunnya standar kompetensi pengawas, terutama karena masih adanya beberapa permasalahan dalam hal kepengawasan yaitu : (1) masih adanya keragaman kemampuan pengawas sekolah dalam melaksanakan tugas dan fungsinya; (2) belum adanya alat ukur untuk mengetahui kemampuan pengawas sekolah, dan (3) belum adanya pembinaan pengawas sekolah yang terarah. Sedangkan tujuan disusunnya standar kompetensi pengawas sekolah adalah: (1) sebagai acuan untuk mengukur kemampuan dan kinerja pengawas sekolah dalam pelaksanaan tugas kepengawasannya di sekolah; (2) pembinaan dan peningkatan mutu pengawas sekolah; (3) peningkatan kinerja pengawas sekolah sesuai dengan profesinya. Mengingat beratnya tugas kepengawasan tersebut maka sudah menjadi suatu keharusan bahwa pengawas sekolah harus menjadi seorang yang profesional dalam bidangnya, dan untuk mencapainya diperlukan upaya untuk meningkatkan profesionalismenya. Selain berbagai alasan pentingnya peningkatan profesionalisme pengawas sekolah seperti di atas maka peningkatan profesionalisme pengawas sekolah juga harus dilakukan untuk menjawab tantangan dunia pendidikan yang semakin komplek, serta untuk lebih mengarahkan sekolah ke arah pencapaian tujuan pendidikan nasional secara efisien.   Referensi Kementerian Pendidikan Nasional. 2007. Peraturan  Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 12 tahun 2007 Tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah. Jakarta. Nana Sudjana. 2006. Standar Mutu Pengawas. Jakarta: Depdiknas. ____________. 2003. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003. Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta. Tita Lestari. 2009. Penyusunan Program, Pelaksanaan dan Pelaporan Hasil Pengawasan. Materi ToT Calon Pengawas. Jakarta: Direktorat Tenaga Kependidikan, Ditjen PMPTK, Departemen Pendidikan Nasional. Uhar Suharsaputra. 2009. Membangun Pengawasan Pendidikan Berorientasi Mutu.
02.12.11 15:44  |   Si Data & Informasi

Pembuatan Media Pembelajaran PKn IPS Tahun 2011

Tahun 2011 PPPPTK PKn dan IPS Batu kembali melaksanakan program pembuatan VCD model pembelajaran untuk mata pelajaran PKn dan IPS di Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Pelaksanaan kegiatan ini beragam, tetapi secara keseluruhan sudah dimulai pada bulan Mei 2011. Penanggung jawab pembuatan VCD model pembelajaran ini adalah masing-masing laboratorium di PPPPTK PKn dan IPS. Masing-masing laboratorium melakukan persiapan dan pembagian tugas serta pendampingan mulai dari penyusunan skrip skenario sampai pelaksanaan shooting/pengambilan gambar dan tahap akhir pembuatan VCD. Kegiatan pembuatan VCD ini dimulai dari penyusunan skrip skenario model pembelajaran pada masing-masing sekolah dan penyusunan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Guna mematangkan dan agar Skrip dan RPP yang disusun dapat lebih sempurna dan dapat digunakan untuk shooting, dilakukan kegitan workshop untuk memperoleh masukan-masukan dari berbagai pihak yang kompeten baik secara akademis maupun secara teknis. Setelah dilakukan revisi-revisi terhadap skrip dan RPP, selanjutnya dilakukan persiapan secara teknis untuk shooting dimulai dengan memberikan pengarahan dan latihan-latihan di sekolah yang menjadi model. Penataan ruang kelas, siswa, dan guru model, semuanya dipersiapkan dan dilatih agar hasil yang diperoleh bisa lebih baik. Dalam proses pembuatan VCD model pembelajaran ini, PPPPTK PKn dan IPS bekerja sama dengan sekolah-sekolah di Kota Batu, Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kab. Probolinggo. Beberapa sekolah tersebut di antaranya: SMA Negeri 2 Kota Batu, SMA Negeri 1 Bantur, SMA Negeri 4 Kota Malang, SMK Negeri 1 Kota Malang, SMA Negeri 5 Kota Malang, dan SD Muhammadiyah Pendil Kabupaten Probolinggo. (RED)
02.12.11 15:44  |   Si Data & Informasi

Program BERMUTU Tahun 2011

Kegiatan BERMUTU (Better Education Through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading) tahun 2011 di PPPPTK PKn dan IPS dilaksanakan mulai bulan Juni 2011. Rangkaian kegiatan BERMUTU dimulai dengan kegiatan Rapat Koordinasi dan Sinkronisasi (Rakorsin) yang dilaksanakan secara serentak bersama-sama dengan empat PPPPTK yang lain yaitu PPPPTK PKn dan IPS, PPPPTK IPA, PPPPTK Bahasa, dan PPPP Matematika. Keempat PPPPTK ini secara bersama-sama melaksanakan kegiatan Rakorsin pada tanggal 7 sampai dengan 9 Juni 2011 bertempat di Hotel Oval Surabaya. Pada kegiatan awal ini diikuti oleh 75 Kepala Dinas Kota/Kabupaten yang menjadi sasaran Program BERMUTU dan 16 LPMP serta beberapa peserta dari perguruan tinggi. Rakorsin ini merupakan kegiatan awal untuk melakukan koordinasi dan memadukan kegiatan-kegiatan Program BERMUTU yang akan dilaksanakan pada tahun 2011. Hasil Rakorsin akan menjadi dasar bagi pelaksanaan kegiatan BERMUTU berikutnya. Setelah Rakorsin, sebagai kegiatan awal adalah Workshop Penyusunan Modul yang akan digunakan dalam kegiatan program BERMUTU. Pada kegiatan workshop ini PPPPTK PKn dan IPS hanya menambahkan tiga modul selain modul yang telah ada, sebagai bahan belajar yaitu modul yang berkaitan dengan Pembelajaran Tematik di kelas 1, kelas 2, dan kelas 3. Setelah penyusunan modul selanjutnya dilakukan kegiatan Harmonisasi Modul BERMUTU, yang bertujuan untuk menyelaraskan modul yang telah disusun agar bisa digunakan oleh peserta program BERMUTU. Kegiatan berikutnya adalah Workshop Penggunaan Modul BERMUTU yang melibatkan WI PPPPTK, WI LPMP, dan guru pemandu. Pada kegiatan ini akan disampaikan mengenai penggunaan modul-modul BERMUTU yang akan bermanfaat bagi WI atau guru pemandu dalam menjalankan tugasnya melakukan pembimbingan dan memandu kegiatan dalam Program BERMUTU di daerah masing-masing. Setelah kegiatan workshop ini dilanjutkan dengan kegiatan Pelatihan PCT (Provincial Core Team), yaitu pelatihan bagi fasilitator di tingkat provinsi yang akan memberikan pelatihan bagi fasilitator di daerah atau tingkat kota/kabupaten. Rangkaian kegiatan Program BERMUTU ini dilaksanakan oleh PPPPTK PKn dan IPS selama bulan Juni sampai dengan bulan Juli. Selanjutnya PPPPTK PKn dan IPS ini akan melakukan pemantauan kegiatan BERMUTU ini melalui kegiatan Monitoring Pelatihan DCT yang dilakukan oleh LPMP di provinsi yang menjadi sasaran Program BERMUTU. Selain ini kegiatan monitoring juga dilakukan di kota/kabupaten sasaran Program BERMUTU yaitu melalui kegiatan Monitoring dan Evaluasi KKG Kota/Kabupaten untuk menjaring data mengenai pelaksanaan Program BERMUTU yang dilakukan di daerah-daerah. Selanjutnya hasil monitoring dan evaluasi ini akan diolah dan kesimpulan hasilnya akan diworkshopkan sebagai bahan masukan untuk pelaksanaan Program BERMUTU yang telah dilakukan. Itulah rangkaian pelaksanaan Program BERMUTU yang dilaksanakan oleh PPPPTK PKn dan IPS pada tahun 2011 ini. Rangkaian kegiatan ini dilaksanakan mulai bulan Juni dan diperkirakan akan dapat terlaksana seluruhnya sampai bulan Agustus. Kepercayaan, komunikasi, dan koordinasi PPPPTK PKn dan IPS dengan instansi yang menangani Program BERMUTU baik PPPPTK, LPMP, maupun dinas pendidikan kota/kabupaten menjadi sarana untuk mewujudkan tujuan bersama dalam rangka menyukseskan Program BERMUTU. (RED)
02.12.11 15:44  |   Si Data & Informasi

Makna Simbolis dan Pedagogis dalam Tradisi Ruwatan

Ditulis oleh Indrijati Soerjasih Jumat, 02 Desember 2011 16:20 Dalam hidup bermasyarakat, manusia diatur oleh suatu aturan, norma, pandangan, tradisi, atau kebiasaan-kebiasaan tertentu yang mengikatnya, sekaligus merupakan cita-cita yang diharapkan untuk memperoleh maksud dan tujuan tertentu yang sangat didambakannya. Aturan, norma, pandangan, tradisi, atau kebiasaan-kebiasaan itulah yang mewujudkan sistem tata nilai untuk dilaksanakan masyarakat pendukungnya, yang kemudian membentuk adat-istiadat. Koentjaraningrat (2002) mengatakan bahwa adat-istiadat sebagai suatu kompleks norma-norma yang oleh individu-individu yang menganutnya dianggap ada di atas manusia yang hidup bersama dalam kenyataan suatu masyarakat. Tanah air Indonesia, yang terdiri dari pulau-pulau, suku-suku bangsa, dan bahasa-bahasa daerah terdapat berbagai adat-istiadat yang kemudian diatur dan ditata oleh masyarakat pendukungnya, sesuai dengan tujuan dan harapan yang didambakannya. Di dalam masyarakat Jawa misalnya, adat-istiadat yang kini masih dipertahankan, dilestarikan, diyakini, dan dikembangkan, benar-benar dapat memberikan pengaruh terhadap sikap, pandangan, dan pola pemikiran bagi masyarakat yang menganutnya. Adat-istiadat Jawa tersebut sangat menarik sebagai bahan kajian budaya, karena didalamnya memuat hal-hal yang bersifat unik. Ditengok dari segi historis, adat-istiadat Jawa telah tumbuh dan berkembang lama, baik di lingkungan kraton maupun di luar kraton. Adat- istiadat Jawa tersebut memuat sistem tata nilai, norma, pandangan maupun aturan kehidupan masyarakat, yang kini masih diakrabi dan dipatuhi oleh orang Jawa yang masih ingin melestarikannya sebagai warisan kebudayaan yang dianggap luhur dan agung. Dalam usahanya untuk melestarikan adat-istiadat, masyarakat Jawa melaksanakan tata upacara tradisi sebagai wujud perencanaan, tindakan, dan perbuatan dari tata nilai yang telah teratur rapi (Koentjaraningrat, 1984). Niels Mulder (1984) berpendapat bahwa bangsa Indonesia, khususnya suku bangsa Jawa mempunyai sifat seremonial. Hampir pada tiap peristiwa yang dianggap penting, baik yang menyangkut segi kehidupan seseorang, baik yang bersifat keagamaan atau kepercayaan, maupun yang mengenai usaha seseorang dalam mencari penghidupan, pelaksanaanya selalu disertai upacara. Dalam perjalanan hidup seseorang, mulai dari dalam kandungan ibunya sampai pada waktu ia meninggal dunia, pada saat-saat tertentu orang akan mengadakan berbagai upacara yang diperuntukkan baginya, seperti upacara tingkeban, kelahiran, selapanan, tedhak siten, khitanan, perkawinan, kematian, dan lain-lain. Di dalam antropologi upacara-upacara semacam itu lazim disebut ritus peralihan. Dalam bulan-bulan tertentu orang mengadakan upacara yang bersifat keagamaan, misalnya ruwahan, selikuran, lebaran, syawalan, besaran, suran, saparan, muludan dan lain-lain. Sedangkan di dalam mencari penghidupan, terutama bagi golongan petani, dikenal upacara-upacara yang bersangkutan dengan bercocok tanam, seperti upacara wiwit, tandur, entas-entas, methik, bersih desa dan lain-lain. Di samping berbagai upacara tersebut, ada lagi jenis upacara yang sedikit banyak berhubungan dengan kepercayaan, yang sumbernya berasal dari jaman sebelum agama Islam mempengaruhi kehidupan kebudayaan orang Jawa, terutama pada waktu lampau, ialah upacara ruwat atau disebut Ruwatan. Ruwat dalam bahasa Jawa sama dengan kata luwar, berarti lepas atau terlepas. Diruwat artinya dilepaskan atau dibebaskan. Pelaksanaan upacara itu disebut ngruwat atau ruwatan, berarti melepaskan atau membebaskan, ialah membebaskan atau melepaskan dari hukuman atau kutukan dewa yang menimbulkan bahaya, malapetaka atau keadaan yang menyedihkan. Ngruwat dapat juga berarti dipulihkan atau dikembalikan pada keadaan semula, tetapi juga menolak bencana yang diyakini akan menimpa pada diri seseorang, mentawarkan atau menetralisir kekuatan gaib yang akan membahayakan. Upacara ruwat yang biasa dilakukan orang hingga sekarang termasuk dalam arti yang kedua, yaitu suatu upacara yang diadakan sebagai sarana yang dijalankan oleh seseorang supaya dapat terhindar dari marabahaya yang diramalkan akan menimpa diri seseorang. Dalam upacara ruwatan sering dipergelarkan pertunjukan wayang. Wayang ialah bentuk pertunjukan tradisional yang disajikan oleh seorang dalang dengan menggunakan boneka atau sejenisnya sebagai alat pertunjukan (Wibisono 1983). Dalam pertunjukan wayang ini disajikan lakon wayang secara khusus. Lakon wayang yang disajikan sebagai sarana upacara ruwatan ini biasanya Murwakala dan Sudamala.   Memahami Ruwatan Murwakala Ritual tradisional ini dilaksanakan dengan pergelaran Wayang Kulit dengan cerita Murwakala. Tujuannya, agar orang yang diruwat hidup selamat dan bahagia, terlepas dari nasib jelek. Dalam cerita wayang, konon Kala yang putra ‘salah kedaden’ (berasal dari kama, bibit Batara Guru yang tumpah ke laut, karena didorong Batari Uma) dan menjadi raksasa jahat, memang diberi hak memangsa manusia yang termasuk kategori sukerta. Sukerta berarti orang yang cacat, yang lemah, dan tak sempurna. Karena itu orang tersebut harus diruwat, artinya dibersihkan atau dicuci agar bersih. Orang sukerta tersebut jika tidak diruwat akan menjadi mangsa batara kala (Endraswara, 2003). Karenanya, ruwatan juga dinamakan murwakala, artinya murwa (murba) yakni mengendalikan atau menguasai kala (Batara Kala). Kala juga berarti waktu. Jadi menguasai kala berarti mampu memanfaatkan waktu dengan sungguh-sungguh. Orang yang mampu menguasai waktu, berarti akan hidup tenteram. Bratawijaya (1988) menyebutkan orang-orang yang termasuk golongan Sukerta, antara lain: 1) Ontang-anting: anak laki-laki tunggal dalam keluarga, tak punya saudara kandung; 2) Unting-unting: anak perempuan tunggal dalam keluarga; 3) Gedhana-gedhini: dua anak dalam keluarga, laki-laki dan perempuan; 4) Uger-uger lawang: dua anak laki-laki dalam keluarga; 5) Kembar sepasang: dua anak perempuan dalam keluarga; 6) Pendhawa: lima anak laki-laki dalam keluarga; 7) Ngayomi: lima anak perempuan dalam keluarga; 8) Julungwangi: anak lahir pada saat matahari terbenam; dan 9) Pangayam-ayam: anak lahir saat tengah hari. Termasuk juga dalam daftar Sukerta, mereka yang dianggap melakukan kesalahan karena menjatuhkan dandang, ketika menanak nasi dan mematahkan gandhik, alat pemipis jamu. Pada perkembangannya sukerta yang diruwat tidak hanya anak-anak. Dapat juga orang dewasa yang dianggap melakukan kesalahan atau kelalaian berat, sehingga membuat orang lain menderita. Mereka yang masuk dalam daftar Sukerta harus diruwat dengan Ruwatan Murwakala supaya tidak menjadi mangsa Kala. Upacara ini dianggap sangat sakral, sehingga harus dilakukan dengan cermat.   Kisah Murwakala Syahdan, pada suatu sore hari, Batara Guru dan sang istri Batari Uma berkeliling jagat raya dengan menunggang Lembu Andhini. Pemandangan terlihat begitu indah. Batara Guru pun terkesima melihat kecantikan sang Batari. Di bawah siraman semburat jingga cahaya surya sore itu, Batari Uma nampak begitu menawan. Paling tidak dalam pandangan Batara Guru, sang suami tercinta. Tak pelak lagi, berahi Batara Guru pun bangkit dan serta-merta mengajak sang istri untuk bercinta. Batari Uma mencoba menolak secara halus karena ini bukanlah saat yang tepat. Apalagi di awang-awang, tempat terbuka seperti itu. Namun apa daya, Batara Guru yang sudah berada dalam suasana berahi memaksakan kehendaknya. Terjadilah pergumulan hebat hingga Batari Uma mendorong dan melepaskan diri dari pelukan Batara Guru yang penuh gejolak nafsu. Akibatnya, kama—buah cinta sang Batara Guru tumpah ke dalam lautan, dan menjelma jadi raksasa besar yang dinamakan Kala. Jadi, Kala adalah satu produk yang salah, dan lantaran kesalahan itu, meskipun anak Dewa, Kala tumbuh menjadi raksasa sangat jahat, yang selalu ingin memangsa daging manusia. Sebagai seorang ayah, Batara Guru memberi izin kepadanya untuk memangsa orang-orang sukerta. Akan tetapi, setelah dibicarakan dengan Batara Narada, patihnya, Batara Guru menyadari bahwa santapan untuk sang Kala akan terlalu banyak. Batara Guru kemudian menulis sebuah mantra di dada Kala. Ketentuannya, siapa saja yang dapat membaca mantra tersebut oleh Kala harus dianggap sebagai ayahnya.Ternyata hanya sedikit orang yang mengetahui dan bisa membaca mantra di dada Kala. Kurban yang menjadi mangsa Kala masih cukup banyak. Batara Guru lalu memutuskan turun ke dunia, menyamar sebagai dalang dengan nama Ki Dalang Kandhabuwana. Kala pun menyerah pada Ki Dalang, dan dia diperintah tinggal di hutan Krendhawahana. Kala setuju dan tunduk, tidak akan mengganggu anak-anak sukerta, yang telah diangkat anak oleh Ki Dalang. Mereka itu para sukerta yang telah menjalani Ruwatan Murwakala. Kala memohon diberkati dengan Santi Puja Mantra, Ki Dalang pun mengabulkan lalu memandikannya dengan air dan bunga-bunga. Sebelum pergi ke hutan, Kala minta bekal sesaji berupa alat-alat pertanian dan hasil bumi, alat dapur, ternak seperti sapi, kerbau, kambing, ayam, itik dan sebangsanya. Masih ditambah kain panjang, beberapa jenis makanan, tikar-bantal dan selimut, yang akan dipakai selama perjalanannya menuju ke hutan. Sepeninggal Kala, Ki Dalang memerintahkan kepada Bima dan Batara Bayu untuk mengusir semua bala tentara Kala dengan menggunakan pecut dan sapu lidi yang diikat dengan tali perak. Pada saat meruwat digunakan Rajah kalacakra. Rajah berarti tulisan, kala artinya waktu, dan cakra adalah perputaran. Rajah kalacakra berarti tulisan atau ngelmu tentang perputaran waktu. Orang yang mengetahui perpuataran waktu, berarti akan mempertimbangkan empan papan dalam bersikap dan bertindak. Rajah Kalacakra biasanya diucapkan oleh Ki Dalang Kandhabuwana, yang bunyi dan maknanya kurang lebih sebagai berikut: …Aum. Ya maraja jaramaya. Ya marani niramaya. Ya silapa palasiya Ya dayudi diyudaya Ya sihama mahasiya Ya siyaca cayasiya Ya midosa sadomiya… Maknanya kurang lebih, wahai orang yang akan berbuat jelek, hilanglah kesaktiannya. Wahai orang yang akan menjadi perusuh, hilanglah kelebihannya. Wahai orang yang lapar, berikanlah mereka kenyang. Wahai orang yang miskin, jadikanlah mereka kaya. Wahai orang yang datang menyerang, hilanglah kekuatannya. Wahai orang yang berdosa, hilangkanlah dosanya. Dari makna demikian, sesungguhnya mantra ruwatan mengandung nilai budi pekerti Jawa yang luar biasa. Budi pekerti tersebut menghendaki agar seseorang berwatak dan bersikap: berbuat baik kepada sesama dan bersedialah menjadi penolong orang lain. Menutup ritual Ruwatan Murwakala, Ki Dalang memotong rambut para sukerta dan memandikan mereka dengan air yang dicampur beberapa macam bunga. Hal-hal penting dalam ritual Ruwatan antara lain: pertama, dalang yang membawakan lakon Ruwatan Murwakala harus memenuhi kriteria dalang yang bijak, mumpuni dalam seni pedalangan. Secara simbolis, dia akan menjadi ayah angkat para sukerta. Kedua, Upacaranya harus dilakukan dengan baik, cermat dan benar. Para sukerta dan keluarganya hendaknya bisa terlibat dan menghayati dengan perasaan mendalam. Dengan demikian akan mengerti dan memahami makna kidung, berupa tembang dan mantra suci, yang dibawakan Ki Dalang. Dalam upacara ini, lazimnya para sukerta dan orangtuanya mengenakan busana tradisional Jawa. Sebelum pergelaran Wayang kulit, para sukerta mohon restu dari orangtuanya masing-masing. Selama pergelaran Wayang kulit yang akan dilanjutkan dengan ritual, pemotongan rambut dan mandi suci, para sukerta mengenakan pakaian kain putih. Secara mistis, putih menunjukkan kesucian. Ketiga, air suci untuk memandikan para sukerta berasal dari 7 (tujuh) sumber air.   Makna Simbolis Kata “Kala”, harfiah berarti waktu. Ada waktu baik dan ada waktu jelek bagi setiap orang. Bila seseorang menderita karena berbagai alasan, seperti musibah kecelakaan, sakit, berbuat salah dan seterusnya, dikatakan orang itu mengalami waktu jelek atau naas. Setiap orang akan selalu berusaha membuang sial, menghindari waktu naas, dan berusaha hidup dalam keselamatan dan kebahagiaan. Pada masa krisis multidimensi seperti sekarang ini, banyak orang dewasa merasa tidak aman. Karena itu semakin banyak saja orang ikut dalam Ruwatan, agar tidak menjadi sasaran Kala dengan membuang nasib jelek atau sial. Batara Guru sebagai penguasa Jagat Raya, turun ke dunia menyamar sebagai dalang untuk memberitahu para sukerta dan orang-orang yang lain, apa yang harus dilakukan agar tidak menjadi mangsa Batara Kala. Nama Kandhabuwana (kandha artinya mengatakan, memberi nasihat, buwana berarti dunia), menyiratkan siapa yang menuruti nasihat Ki Dalang akan selamat dan bahagia. Tradisi ruwatan dilakukan sebagai suatu permohonan agar manusia diselamatkan dari gangguan dan bencana yang mengancam hidup dan kehidupannya. Melalui ruwatan, manusia merasa terlindungi oleh kekuatan besar yang dipercaya sebagai kekuatan penyelamat sehingga dalam dirinya muncul hasrat untuk selalu eling, bertobat, mendekat, bermohon, berserah diri dan semacamnya kepada kekuatan penyelamat yang dimaksud. Dalam ruwatan tersebut terdapat peralatan, sajian, korban, atau mantera yang dijadikan sarana untuk menjembatani komunikasi antara manusia dengan kekuatan penyelamat yang diinginkan. Dalam masyarakat Jawa, ruwatan diejawantahkan dalam berbagai kegiatan spiritual seperti selamatan, bancakan, memetri, bersih desa, pethik laut, sedekah bumi, ider bumi, menggelar pertunjukan, dan lain sebagainya. Maksud ruwatan adalah memuja dan meminta dengan sepenuh hati agar pelakunya lepas dari petaka dan memperoleh keselamatan. Van Baal (1988) mengungkapkan bahwa sajian merupakan pemberian atau persembahan kepada dewa dan roh, hal tersebut bukan saja apa yang digemari oleh para dewa dan roh tetapi mengandung lambang-lambang guna berkomunikasi dengan dewa tersebut. Misalnya itik, menthog, dan burung merpati menjadi kegemaran Betara Kala, kain bangun tulak adalah kain kegemaran Batari Durga, kain pandhan binethot kegemaran Batari Sri dan lain-lain. Dewasa ini sudah jarang orang yang dapat menafsirkan seluruh jenis sajian yang dihidangkan dalam upacara ruwat itu, tetapi meskipun demikian orang taat dalam mengusahakannya dan menyediakan barang-barang itu, karena kalau kurang lengkap kemungkinan besar upacara itu tidak mencapai maksud yang dikehendaki, bahkan dapat mendatangkan bencana. Dalam Ruwatan Murwakala disimbolkan bahwa Kala adalah produk dari kama-salah, yaitu mani yang salah. Jadi semacam pemberitahuan bahwa hubungan seksual antara pria dan wanita, hendaknya dilakukan dengan cara yang baik, pada waktu dan tempat yang layak. Dan tidak hanya menonjolkan nafsu badaniah, sehingga akan membuahkan anak yang wataknya kurang baik. Selain itu bekal dan sesaji yang diminta Kala itu merupakan barang-barang kebutuhan hidup manusia, sebagai simbol kecintaan kepada Ibu Pertiwi, dengan segala hasil buminya.   Makna Pedagogis Meski telah memasuki era modern, Ruwatan, masih dilakukan karena alasan merasa belum sreg kalau belum melaksanakan tradisi para leluhurnya, khawatir kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, atau karena musibah yang bertubi-tubi menimpa walaupun secara sosial religius telah menjalankan semua syariat agamanya. Atau karena alasan ingin melestarikan adat istiadat leluhurnya. Ruwatan tetap dilestarikan karena mampu menjawab kerinduan orang-orang yang hidup di zaman ini dalam mengekspresikan syukur atas kehidupan yang dialaminya, tapi juga sekaligus mengekspresikan permohonan dan harapan untuk memperoleh rahmat dan berkat kehidupan yang terbebas dari malapetaka. Istilah “modern” perlu ditegaskan di sini bukan dalam pengertian “kebarat-baratan”. Modern di sini tetap terintegrasi dengan sumber dasar kebudayaan Indonesia di Jawa pada khususnya. Dengan demikian pandangan-pandangan masyarakat yang asli tetap akan terangkat ke dalam kesadaran kita sebagai tantangan. Usaha untuk menghindari dan menjauhkan diri dari kekacauan dan gangguan kejahatan, seseorang harus belajar dan mencari ilmu tentang rahasia kehidupan dunia melalui kearifan dan kebaikan. Berbicara mengenai belajar dan mencari ilmu mempunyai kaitan dengan dunia pendidikan. Demikian pula dengan ruwatan, sebenarnya adalah identik dengan arti pendidikan atau dengan kata lain, ruwatan bisa diganti dengan pendidikan. Maksudnya, jika seseorang mampu mendidik anak-anaknya, entah itu pandawa, tunggal atau entah yang lain lagi secara tepat dan benar sejak kecil sampai dewasa hingga memiliki kearifan dan kebajikan, maka anak itu akan terawat dari sukerta. Apakah itu berarti sudah tidak perlu lagi mengadakan ruwatan apabila seseorang itu telah mendidik anaknya dengan benar? Bagaimanapun juga ruwatan adalah budaya bangsa sendiri, jadi tidak salah bila kita perlu untuk melestarikannya. Ngruwat dipandang dari segi pendidikan mempunyai dua sisi pandang, yaitu dari sisi secara horisontal dan sisi vertikal. Secara horisontal ngruwat adalah pendidikan yang sifatnya praktis. Jadi lewat upacara itu seseorang bisa mengambil inti sari “nilai moral” yang dikandung di dalamnya. Dalam lakon Murwakala banyak sekali ajaran-ajaran maupun nasihat-nasihat dapat disampaikan pada masyarakat, terutama yang berhubungan dengan sikap harus berhati-hati dan menjaga etika. Peristiwa lahirnya Batara Kala, memberikan pelajaran pada orang Jawa, bahwa seseorang harus mengerti kedudukannya serta tahu menempatkan dirinya bila akan melakukan sesuatu, serta menggambarkan pada khalayak ramai bahwa betapa buruknya peristiwa pemaksaan seksual atau lebih tepat perzinahan atau pelacuran hingga lahirnya si Jabang bayi. Selain itu, pada lakon Murwakala memberikan pelajaran pada manusia untuk selalu menjaga kesopanan, menjaga nama baik keluarga, bertingkah laku sesuai norma yang terdapat pada masyarakat. Pada upacara ruwatan yang bertepatan dengan acara pernikahan banyak ditekankan pada bagaimana seseorang itu dalam kehidupan berumahtangga. Pengakuan Batara Kala terhadap keunggulan dan keluhuran Ki Dalang Kandhabuwana menunjukkan pada lambang sportifitas seseorang. Jujur mengakui keunggulan orang lain dan yang harus dilakukan sejak masa kanak-kanak. Sedangkan pengakuan Batara Kala pada Ki Dalang Kandhabuwana sebagai ayahnya, adalah penggambaran pada lambang kedisiplinan, dalam arti kata, segala kehendak Ki Dalang akan selalu dituruti (disiplin pada segala janji yang telah diucapkan). Sebenarnya tidak semua Batara Kala dikatakan atau dicap negatif, sebab adanya sikap mau mengakui dan mentaati janji, adalah sudah merupakan suatu sikap yang dijunjung pada masyarakat Jawa. Namun karena Batara Kala kurang dapat membawa diri sebagai keturunan Batara yang baik-haus darah manusia, tidak dapat mengontrol diri dan kasar serta ancaman-ancamannya, membuat manusia jadi takut, maka kelakuan Batara Kala cenderung dinilai buruk dan kejam oleh masyarakat. Secara vertikal, ngruwat menampakkan perbedaannya dengan pendidikan, yakni bahwa ngruwat bersifat religio seremonial yang mengandung daya kekuatan sakral yang menyatukan manusia dengan Tuhannya. Inilah yang menimbulkan dampak psikologis bagi yang percaya setelah menjalani ruwatan. Ia merasa tentram, aman dan mempertebal rasa percaya dirinya. Lain bagi seseorang yang tidak mempercayainya. Inilah yang menjadikan perbedaannya pada masing-masing orang. Pengetahuan serta kemampuan Ki Dalang untuk menerangkan rahasia kehidupan itu, membuat sifat fatalistik dari masyarakat Jawa, yaitu menyerahkan segala urusan penyelenggaraan hajat meruwat. Melalui sarana upacara ruwatan itu seseorang bisa mengambil inti sari “nilai-nilai moral” yang dikandung di dalamnya. Hanya saja pada kenyataannya berapa persenkah orang-orang pada jaman sekarang yang benar-benar memperhatikan pendidikan. Gejala menurunnya moralitas kini sudah menjamur di mana-mana. Ini berarti dunia pendidikan mengalami kemelut krisis. Jadi, meskipun pendidikan sifatnya praktis, namun kenyataannya masih banyak yang belum mampu mempraktikkannya.   Referensi Bratawijaya, Thomas Wijasa. 1988. Upacara Tradisional Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Darmoko, 2002. Ruwatan: Upacara Pembebasan Malapetaka Tinjauan Sosiokultural Masyarakat Jawa. Majalah Makara, Sosial Humaniora, Vol. 6, No. 1, Juni 2002 Endraswara, Suwardi. 2004. Budi Pekerti dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: Hanindita Koentjaraningrat, 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka ______________, 2002. Pengantar Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta Mulder, Niels. 1984. Kebatinan dan Hidup Sehari-hari Orang Jawa: Kelangsungan dan Perubahan Kulturil. Jakarta: PT Gramedia. Van Baal, 1988. Sejarah Pertumbuhan Teori Antropolgi Hingga Dekade 1970. Jakarta: Gramedia Wibisono, Singgih. 1983. “Wayang Sebagai Sarana Komunikasi” dalam Seni dalam Masyarakat Indonesia. Jakarta: Gramedia.  
08.06.11 15:39  |   Si Data & Informasi

Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koperasi 2011

Perlunya pengembangan bidang usaha koperasi agar menjadi lebih maju dan dapat lebih menyejahterakan anggotanya, tetapi jangan sampai terjebak pada sikap kapitalis yang cenderung terus mencari untung tanpa mempertimbangkan unsur sosialnya, berikut salah satu sambutan yang disampaikan oleh Kepala Koperasi Pegawai Negeri (KPN) Kota Malang, Bapak Sugeng Hadi Utomo, saat menghadiri Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koperasi Sejahtera di PPPPTK PKn dan IPS. RAT dilaksanakan di gedung aula Perpustakaan PPPPTK PKn dan IPS pada tanggal 29 Maret 2011. Kegiatan ini dihadiri oleh hampir seluruh anggota koperasi yang juga pegawai di PPPPTK PKn dan IPS. Selain Kepala KPN, RAT juga dihadiri oleh perwakilan dari Dinas Koperasi dan UKM kota Malang dan Kepala PPPPTK PKn dan IPS selaku Pembina Koperasi. Dalam acara RAT ini ada beberapa masukan dan penyepakatan di antaranya penyepakatan besarnya dana bantuan sosial untuk anggota yang terkena musibah, pengesahan laporan pertanggungjawaban pengurus, dan pemilihan anggota badan pemeriksa koperasi untuk mengganti Bapak H.B. Suparlan yang telah menjabat anggota badan pemeriksa koperasi selama tiga periode. Laporan pertanggungjawaban pengurus secara umum dapat diterima oleh anggota dan dapat disahkan, tetapi perlu ada beberapa revisi dan catatan untuk memperjelas laporan. Pada sesi pemilihan anggota badan pemeriksa koperasi, anggota secara aklamasi dengan suara terbanyak memilih pengganti Bapak H.B. Suparlan, yaitu Bapak Yaser Awaluddin. Setelah pemilihan dilanjutkan dengan pelantikan secara resmi Bapak Yaser Awaluddin sebagai anggota badan pemeriksa oleh perwakilan dari Depkop dan UKM disaksikan oleh seluruh anggota. Kegiatan RAT ini diakhiri dengan pengundian doorprize bagi anggota koperasi (hp).
28.05.11 15:41  |   Si Data & Informasi

Kegiatan BERMUTU 2010

Mulai bulan April 2010, PPPPTK PKn dan IPS mulai menyelenggarakan kegiatan untuk Program BERMUTU. Kegiatan ini diawali dengan kegiatan Sinkronisasi kegiatan program BERMUTU yang diikuti oleh berbagai instansi yang menjadi sasaran Program BERMUTU. Kegiatan ini merupakan program Kementerian Pendidikan Nasional untuk peningkatan kualifikasi dan penerapan sertifikasi guru sesuai dengan Undang-Undang RI Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Program BERMUTU ini merupakan program kerja sama pemerintah RI dengan Pemerintah Belanda dan bank Dunia. Sasaran dari kegiatan ini adalah guru-guru SD dan SMP terutama yang berada di 75 kota/kabupaten di seluruh Indonesia. Tujuan utama dari program ini adalah sebagai upaya untuk peningkatan mutu pendidikan melalui peningkatan karier dan kinerja guru secara langsung yang dikaitkan dengan peningkatan mutu pembelajaran di kelas. Guna menyukseskan program BERMUTU ini, PPPPTK PKn dan IPS berupaya untuk menfasilitasi pelaksanaan kegiatan BERMUTU, di antaranya dengan mengadakan pendidikan dan pelatihan bagi personal-personal yang akan memberikan pendampingan dalam kegiatan BERMUTU, baik yang tergabung dalam National Core Team (NCT), Provincial Core Team (PCT), District Core Team (DCT), maupun National Team (NT) bagi tim Pengembang Program KKG, KKKS, MKKS, KKPS, dan MKPS. Dalam kegiatan ini model kegiatan BERMUTU yang digunakan adalah berbasis kelompok kerja, pengembangan dan desiminasinya dengan menerapkan strategi berantai (case cade). kegiatan yang difasilitasi oleh PPPPTK PKn dan IPS di antaranya adalah Pelatihan Penggunaan Modul BERMUTU yang telah dilaksanakan pada tanggal 20-24 April 2010, Pelatihan PCT yang dilaksanakan tanggal 27 April - 1 Mei 2010, Pelatihan NT bagi Pengembang KKG yang dilaksanakan pada tanggal 29 April - 1 Mei 2010. Beberapa kegiatan tersebut dilaksanakan di Malang. Khusus untuk Pelatihan DCT akan dilaksanakan di tiga region, yaitu Region I di Jawa Barat, Region II di Malang, Jawa Timur, dan Region III di Makassar, Sulawesi Selatan. Kegiatan ini akan dilaksanakan di bulan Mei 2010. Peserta Pelatihan DCT adalah guru-guru yang akan menjadi pengembang di KKG yang ada di 75 kota/kabupaten di seluruh provinsi di Indonesia. Selain kegiatan pelatihan tersebut PPPPTK PKn dan IPS juga menfasilitasi kegiatan lain yang menunjang pelaksanaan kegiatan program BERMUTU (hp).
04.04.10 15:22  |   Si Data & Informasi

Pemetaan Kompetensi Guru Pelajaran Tahun 2011 Tahap II

Kegiatan Pemetaan Kompetensi Guru PKn dan IPS dilaksanakan oleh lembaga dengan sasaran 50 kota/kabupaten di seluruh Indonesia. Untuk tahap II kota/kabupaten yang menjadi sasaran sejumlah 23 kota/kabupaten. Sesuai jadwal pelaksanaan kegiatan Pemetaan Kompetensi Guru PKn dan IPS ini akan dilaksanakan pada tanggal 6 Mei 2011 di dinas pendidikan kota/kabupaten yang menjadi sasaran. Pesertanya adalah guru-guru PKn dan IPS yang telah ditunjuk sesuai kuota yang telah ditentukan untuk tiap kota/kabupaten sasaran.       Tempat: Dinas Pendidikan Kota/Kabupaten Sasaran Pemetaan: TAHAP II 1. Kota Tanjung Pinang - Kep Riau 2. Kab. Sorolangun - Jambi 3. Kab. Lebak - Banten 4. Kab. Kepulauan Seribu - DKI Jakarta 5. Kab. Sumedang - Jabar 6. Kab. Kerawang - Jabar 7. Kota Tasikmalaya - Jabar 8. Kab. Purbalingga - Jateng 9. Kab. Blora - Jateng 10. Kab. Sleman - DIY 11. Kab. Kulon Progo - DIY 12. Kab. Bojonegoro - Jatim 13. Kab. Pacitan - Jatim 14. Kab. Jember - Jatim 15. Kab. Sumenep - Jatim 16. Kab. Sambas - Kalbar 17. Kab. Lombok Utara - NTB 18. Kab. Bulukumba - Sulsel 19. Kota Kendari - Sultra 20. Kab. Majene - Sulbar 21. Kab. Seram Barat - Maluku 22. Kab. Halmahera Utara - Malut 23. Kab. Keerom - Papua
06.02.10 15:16  |   Si Data & Informasi

Pemetaan Kompetensi Guru PKn IPS Tahun 2011 Tahap I

Kegiatan Pemetaan Kompetensi Guru PKn dan IPS tahun 2010 dilaksanakan oleh lembaga dengan sasaran 50 kota/kabupaten di seluruh Indonesia. Untuk tahap I kota/kabupaten yang menjadi sasaran sejumlah 27 kota/kabupaten. Sesuai jadwal pelaksanaan kegiatan Pemetaan Kompetensi Guru PKn dan IPS ini akan dilaksanakan pada tanggal 29 April 2010 di dinas pendidikan kota/kabupaten yang menjadi sasaran. Pesertanya adalah guru-guru PKn dan IPS yang telah ditunjuk sesuai kuota yang telah ditentukan untuk tiap kota/kabupaten sasaran (hp).       Tempat: Dinas Pendidikan Kota/Kabupaten Sasaran Pemetaan TAHAP I                                                                1. Kota Sabang - NAD                                              2. Kab. Langkat - Sumut                                          3. Kab. Rokan Hulu - Riau                                           4. Kota Payakumbuh - Sumbar                                     5. Kab. Kepahiang - Bengkulu                                    6. Kab. Ogan Komering Ulu - Sumsel                          7. Kab. Bangka Selatan - Kep. Bangka Belitung               8. Kab. Tanggamus - Lampung                                   9. Kab. Ciamis - Jabar                                              10. Kab. Banjarnegara - Jateng                                11. Kab. Kendal - Jateng                                          12. Kab. Pekalongan - Jateng                                    13. Kab. Tegal - Jateng                                            14. Kab. Tuban - Jatim                                            15. kab. Malang - Jatim                                            16. Kab. sampang - Jatim                                          17. Kab. Kapuas - Kalteng                                        18. Kab. Tapin - Kalsel                                            19. Kota Bontang - Kaltim                                     20. Kab. Bangli - Bali                                              21. Kab. Karangasem - Bali                                        22. Kab. Kupang - NTT                                          23. Kota Kotamobagu - Sulut                                 24. Kab. Pohuwato - Gorontalo 25. Kab. Poso - Sulteng 26. Kab. Bantaeng - Sulse 27. Kota Sorong - Papua Barat
06.01.10 11:48  |   Si Data & Informasi
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Kewarganegaraan dan Ilmu Pengetahuan Sosial
Jl. Arhanud, Ds. Sekar Putih Kel. Pendem Kec. Junrejo Kota Batu
Jawa Timur
Telp. 0341-532100
Fax. 0341-532110
, p{2}
Copyright © 2016 PPPPTK PKn & IPS
Powered by Lubna.Us