Peningkatkan Penguasaan Materi IPS Melalui Metode Bermain Peran

09.Apr.16 11:14  |  Oleh Si Data & Informasi   |  

oleh: Elly Dwiana Ratnaningtyas (*)

(Guru SDN Merjosari 5 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang)

Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan salah satu mata pelajaran yang dapat menghasilkan manusia Indonesia seutuhnya, sehingga menumbuhkan dan memiliki mental yang baik untuk dapat melaksanakan kegiatan pembangunan.

Setiap sekolah selalu berharap bahwa penyelenggaraan pendidikan yang dilakukan dapat berhasil dengan baik. Secara umum keberhasilan ini dapat diukur dengan tingkat prestasi yang diperoleh. Sebenarnya pernyataan tersebut sangat keliru. Tolok ukur keberhasilan pendidikan seharusnya diukur dari ‘input’ dan ‘out-put’. Seberapa besar peningkatan dari prestasi yang dicapai oleh siswa pada saat dia masuk sekolah tersebut dan pada saat dia keluar dari sekolah tersebut.

Upaya-upaya yang dilakukan misalnya dengan mengirim para guru untuk mengikuti kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG) di tingkat kepengawasan. Pengetahuan para guru dapat lebih meningkat, sehingga penyelenggaraan belajar-mengajar dapat lebih baik lagi. Penggunaan metode mengajar yang bervariasi juga merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh guru untuk dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

Pendekatan pembelajaran yang paling sesuai adalah pembelajaran yang berorientasi pada kepentingan siswa atau siswa sentris. Hal ini sesuai dengan pendekatan pembelajaran diskaveri/inkuiri yang menunjukkan dominasi peserta didik selama proses pembelajaran, sedangkan guru sebagai fasilitator. Selaras dengan uraian di atas adalah penggunaan pendekatan pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL), yaitu konsep pembelajaran yang membantu guru menghubungkan mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan membantu siswa untuk menghubungkan pengetahuannya dengan kehidupan sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat di mana dia berada.

Bermain peran merupakan salah satu metode mengajar (Soetomo, 1993) yang dapat menumbuhkan motivasi pada siswa untuk lebih aktif dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Metode bermain peran (Slameto, 1991) mengajak siswa untuk berperan menjadi orang tertentu dalam masyarakat. Pembelajaran ini membutuhkan pengalaman dari siswa. Dengan metode bermain peran yang dilaksanakan dengan baik, maka siswa dapat lebih mudah untuk dapat memahami materi pelajaran yang disajikan, sehingga dapat meningkatkan prestasi belajarnya.

Selain itu, kegiatan diskusi juga dapat melatih siswa untuk berani mengungkapkan pendapatnya. Dengan metode diskusi juga dapat membantu siswa untuk dapat menghargai pendapat orang lain dan menerima pendapat orang lain. Kondisi ini dapat menjadi bekal bagi siswa untuk menghadapi kenyataan hidup di masyarakat, dengan segala macam kemajemukannya. Dengan metode bermain peran dan diskusi (Mulyoso, 2005) yang dikombinasikan secara tepat akan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

Untuk mengetahui apakah hipotesis diatas benar, maka dilakukan sebuah penelitian yang dilaksanakan di SDN Merjosari 5, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, kelas III dalam mata pelajaran IPS. Jumlah siswa ada 40 siswa. Penelitian dilaksanakan dalam tahun pelajaran 2012/2013 semester ganjil, dari bulan September sampai dengan Nopember 2012.

Pengamatan dalam penelitian ini dibagi dalam 2 siklus. Setiap siklus dibagi dalam tiga kali pertemuan. Kegiatan pelaksanaan tindakan dalam setiap siklus, dibarengi dengan pengamatan yang dapat dilakukan sebagai berikut: Guru melaksanakan desain pembelajaran dengan metode bermain peran dan diskusi yang telah direncanakan; Guru memberikan tugas kepada siswa untuk dilaksanakan dan membuat laporan tentang kegiatan yang dilakukan, baik secara individu maupun secara kelompok sesuai dengan tugasnya masing-masing; Guru mempelajari laporan kegiatan yang dilakukan oleh siswa baik secara individu maupun kelompok dan memberikan penjelasan tambahan jika diperlukan; Guru merekam data dan mengamati kegiatan siswa sesuai dengan laporan yang telah disusun dengan menggunakan alat perekam, pedoman pengamatan serta catatan lapangan.

Dalam penelitian ini ada beberapa instrumen yang digunakan untuk menjaring data penelitian, yaitu: pedoman observasi, dokumen, dan catatan lapangan. Instrumen ini berisi tentang kegiatan yang dilakukan oleh siswa, dengan indikator sebagai berikut : peran serta masing-masing anggota; kesungguhan dalam membawakan peran penguasaan peran kesesuaian dengan tujuan. Sedangkan instrumen kerjasama kelompok berisi tentang kegiatan yang dilakukan oleh siswa, dengan indikator sebagai berikut: menghargai kesepakatan berpartisipasi secara aktif memberikan penghargaan dengan menunjukkan simpati menerima tanggung jawab; mendorong partisipasi; membuat ringkasan dan kesimpulan. Selanjutnya untuk mengetahui penguasaan konsep materi pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang dibahas dalam kelas selalu ada peningkatan baik sesudah pra tindakan, siklus I, siklus II dapat melampai kriteria ketuntasan minimal dilakukan ulangan harian.

Berdasarkan hasil pengamatan tentang kegiatan bermain peran yang dilakukan oleh masing-masing kelompok yang dilakukan pada siklus I dan siklus II dapat diketahui sebagaimana dalam tabel berikut ini:

Kegiatan bermain peran sebagaimana dalam tabel di atas, dapat diuraikan bahwa rata-rata prosentase pada siklus I sebesar 67.66 %. Jadi kerjasama siswa dalam kelompok sudah cukup baik pada siklus I. Namun dalam siklus II, kegiatan bermain peran mengalami peningkatan, yaitu menjadi 71.40 %. Jadi kegiatan bermain peran yang dilakukan sudah termasuk baik dalam siklus II.

Dengan demikian kegiatan bermain peran yang dilaksanakan oleh masing-masing kelompok dalam kegiatan pembelajaran sudah baik.

Kerjasama siswa dalam kelompok diskusi yang dilakukan pada siklus I dan siklus II dapat diketahui sebagaimana dalam tabel berikut ini:

Kerjasama siswa dalam kelompok diskusi sebagaimana tabel di atas, dapat diuraikan bahwa rata-rata prosentase pada siklus I sebesar 67.92 %. Jadi kerjasama siswa dalam kelompok sudah cukup baik pada siklus I. Namun dalam siklus II, kerjasama siswa dalam kelompok mengalami peningkatan, yaitu menjadi 71.14 %. Jadi kerjasama siswa dalam kelompok sudah termasuk baik. Dengan demikian kerjasama siswa dalam kelompok yang dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran sudah baik.

Sedangkan berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan pada pra tindakan, siklus I, dan siklus II (lihat lampiran 3, lampiran 6, dan lampiran 9), maka dapat diketahui sebagaimana dalam tabel berikut ini:

Hasil evaluasi menunjukkan terdapat kenaikkan yang tuntas belajar dari 24 siswa (60%) pada pra tindakan menjadi 29 siswa (72,5) pada siklus I, dan menjadi 34 siswa (85%) pada siklus II. Sedangkan yang belum tuntas belajar mengalami penurunan dari 16 siswa (40 %) pada pra tindakan menjadi 11 siswa (27,5 %) pada siklus I, dan menjadi 6 siswa (15 %) pada siklus II.

Berdasarkan hasil analisis penelitian sebagaimana dijelaskan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa metode bermain peran dan diskusi dapat meningkatkan penguasaan konsep pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial pada siswa kelas III Sekolah Dasar.

Daftar Rujukan

Arikunto, Suharsimi, Suhardjono, Supardi. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Mulyasa, E.. 2005. Menjadi Guru Profesional, Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.

Saiful Rachman, Yoto, Syarif Suhartadi, Suparti. 2006. Penelitian Tindakan Kelas dan Penulisan Karya Ilmiah. Surabaya: SIC Bekerjasama Dengan Dinas P dan K Provinsi Jawa Timur.

Slameto. 1991. Proses Belajar Mengajar Dalam Sistem Kredit Semester (SKS). Jakarta: Bumi Aksara.

Soetomo. 1993. Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar. Surabaya: Usaha Nasional.

(*)Isi menjadi tanggung jawab penulis.

Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Kewarganegaraan dan Ilmu Pengetahuan Sosial
Jl. Arhanud, Ds. Sekar Putih Kel. Pendem Kec. Junrejo Kota Batu
Jawa Timur
Telp. 0341-532100
Fax. 0341-532110
, p{2}
Copyright © 2016 PPPPTK PKn & IPS
Powered by Lubna.Us